Kisah Nyata Veteran Perang Bertemu Suku Mante: Kakinya Terbalik dan Larinya Kencang

Sementara tumit berada di depan. Larinya kencang. Di tangannya selalu ada senjata berbahan kayu. Lebih pas disebut pemukul.

Facebook/Wujud/screengrab
Makhluk aneh mirip Suku Mante berlarian di lapangan parkir 

Hutan Aceh di sepanjang jalur tersebut, kata kakek hidup berbagai jenis hewan liar.

Dalam perjalanannya, mereka sering bertemu dengan harimau, gajah, badak, dan ular yang melintasi jalan. Menariknya, tak sekalipun mereka diganggu.

Saat berpapasan dengan binatang yang ada, khususnya gajah dan harimau, biasanya mereka berhenti. Menunggu sampai nekpergi. Istilah untuk dua binatang itu.

Bertemu Mante

Selain kerap berhadapan dengan binatang, kakek juga mengaku sering bertemu dengan Suku Mante. Katanya, Mante bertubuh kecil. Kakinya terbalik.

Bagian jari kaki justru di belakang. Sementara tumit berada di depan. Larinya kencang. Di tangannya selalu ada senjata berbahan kayu. Lebih pas disebut pemukul.

Mereka tak pernah bisa berhadap-hadapan. Yang ada hanya jejaknya yang lucu. Karena cap tumitnya di depan. Kejadian itu tidak sekali saja.

Dari cerita kakek, beliau setidaknya pernah bertemu selama tiga kali. Selama itu pula “Mante” lari tunggang langgang ke dalam hutan.

Dipercayai atau tidak, kata kakek Mante tersebut memang hidup dalam hutan. Dia berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan makanannya.

Kisah itu diceritakan oleh beberapa temannya yang lain. Katanya sempat ditemukan bekas pembakaran dan peralatan masak di tengah-tengah hutan.

Bentuknya tidak biasa. Terbuat dari kayu dan batu. Soal itu, cerita kakek tidak spesifik.

Kisah yang dituturkan kakek kepada saya memang tidak tercatat secara ilmiah. Namun istilah Mante di Aceh Selatan-Abdya setau saya tak asing.

Dalam kehidupan sehari-hari, nenek dan perempuan seusianya sering menggunakan istilah Mante sebagai bahan cibiran untuk anak cucunya yang seolah-olah tak pernah melihat sesuatu yang baru.

Baik itu merujuk pada barang tertentu atau daerah tertentu. “Ka saba hai neuk. Bek lagee Mante han tom kalon sapeu,” yang bermakna sabarlah sedikit, jangan seperti Mante yang nggak pernah melihat apapun.

Penggunaan istilah itu bisa jadi merujuk pada keberadaan suku tersebut di tengah-tengah hutan yang selalu menghindar jika bertemu orang. Data faktual mengenai luas hutan Aceh mungkin masih diperdebatkan.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved