Jamur 'Yarchagumba' Dikenal Sebagai Viagra Himalaya, Harganya Lebih Mahal dari Emas
Jamur 'Yarchagumba' Dikenal Sebagai Viagra Himalaya, Kini Sulit Ditemukan, Harganya Lebih Mahal dari Emas
Penulis: Asmadi Pandapotan Siregar | Editor: Teddy Malaka
POSBELITUNG.CO, WASHINGTON -- Sejenis kulat atau jamur ulat yang dianggap lebih berharga daripada emas, yang juga dikenal dengan sebutan'Himalaya Viagra' di Asia semakin sulit ditemukan.
Sejumlah peneliti menyebutkan, sulitnya 'Himalaya Viagara' itu ditemukan karena adanya perubahan iklim.
Selama bertahun-tahun, banyak pengumpul obat ajaib ini di Cina dan Nepal dilaporkan terbunuh hanya karena jamur langka yang disebut 'yarchagumba' atau dikenal sebagai Ophiocordyceps sinensis.
Jamur yang tidak pasti dan sering direbus untuk membuat teh atau bagian sup itu dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari impotensi hingga kanker.
Menurut laporan proceedings of the National Science Academy, sebuah jurnal AS yang telah melakukan penelitian awal, jamur adalah salah satu komoditas paling berharga di dunia, dan menyediakan sumber pendapatan bagi ratusan kolektor.
Baca: Jokowi Akhirnya Buka Suara Terkait Mobil Esemka, Begini Jelasnya
Baca: Seekor Tupai di Jepang Mendadak Tenar, Ternyata Gara-gara Memiliki ini
Para peneliti mengatakan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, popularitas jamur telah meningkat, sementara harganya juga telah meningkat dan itu bisa mencapai tiga kali lebih banyak daripada harga emas di Beijing.
Meski banyak yang menduga bahwa panen berlebihan adalah salah satu penyebab komoditas berharga ini semakin berkurang.
Para ahli juga telah mewawancarai para kolektor dan pedagang, serta mempelajari pola cuaca, faktor geografis dan kondisi lingkungan.
Menurut kepala penelitian, Kelly Hopping dari Stanford University sebagiaman dikutip dari AFP/mymetroonline melalui laman mynewshub, meskipun penduduk setempat mulai mengurangi jumlah panen, produksi terus menurun sebagai akibat dari perubahan cuaca.
Namun, para peneliti masih gagal untuk menentukan apakah panen berlebihan atau perubahan cuaca memiliki dampak terbesar pada jamur berharga ini.
Baca: Prabowo Hidup di Luar Negeri sejak Kecil, Sudjiwo Tedjo: Dia Cinta Sama Negerinya Atau Benci Sekali?
Baca: Si Dokter Hantu: Menguak Sisi Gelap Operasi Plastik di Korea Selatan yang Bikin Merinding
Diktuip dari laman bbc, satu kilogram yarsagumba dibanderol dengan harga US$100.000 atau setara Rp1,4 miliar di pasar internasional, seperti Cina, Korea, Thailand, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
Harga yang fantastis itu lah yang membuat warga desa di lereng Himalaya rela mempertaruhkan nyawa demi mencari yarsagumba.
Sita Gurung, salah seorang pencari yarsagumba mengatakan cuaca dingin dan longsor salju adalah ancaman terbesar.
"Kadang kami kehujanan dan kedinginan. Selain itu, longsor salju bisa datang mendadak," ujarnya. "Jika longsornya besar, kami bisa terhempas ke jurang."
Sita mengatakan satu buah yarsagumba dijual seharga US$3,50 - 4,50 atau setara Rp50.000-65.000. Namun, saat sudah diekspor dan sampai ke pasar internasional harganya melonjak berkali-kali lipat. Satu gramnya, dibanderol dengan harga US$100 (Rp1,4 juta).
Baca: Diperingatkan Berkali Kali, Bung Karno Tetap Nekat Nikahi Naoko Nemoto, Ternyata ini Alasannya
Baca: Jamaah Tak Tahu Selama 37 Tahun Arah Kiblat di Masjid Ini Tak Tepat, Melenceng 33 Derajat
Baca: CPNS 2018 - Cek Namamu, Ini Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi CPNS Kemenag
Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini, Kamis 25 Oktober: Virgo Banyak Kerjaan, Taurus Masuk Babak Baru
Baca: Ini Fakta-fakta yang Ditemukan di Lapangan Terkait Satu Keluarga Tewas di Kalidoni Palembang
Baca: Ingat 4 Zodiak Ini Bisa Sangat Lihai Sembunyikan Perselingkuhannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/capture-jamur-yarchagumba-viagra-himalaya-2_20181025_202228.jpg)