Sempat Terhempas 3 Kali hingga Terdampar, Kisah Nelayan yang Selamat Dari Tsunami Banten & Lampung

Puji (27) nelayan asal Desa Kenali, Kecamtan Rajabasa, Lampung Selatan menjadi korban selamat tsunami Selat Sunda atau tsunami Banden dan Lampung

Tayang:
Editor: Evan Saputra
ANN
Ilustrasi tsunami di Jepang. 

"Tentu ini merupakan bagian yang labil dan jika melorot atau longsor tentu dapat memicu tsunami," kata Hery.

Dalam publikasi penelitian Deplus dan Hery di Journal od Vulcanology and Geothermal Research pada 1995, disebutkan tsunami akibat longsoran Gunung Anak Krakatau pernah terjadi pada 1981.

"Longsorannya besar, energinya juga pasti besar," kata pakar vulkanologi Surono yang melihat citra BPPT.

Widjo mengungkapkan untuk lebih pasti perlu dilakukan perkiraan volume longsoran yang jatuh ke lautan.

Longsor Gunung Anak Krakatau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, bencana tsunami yang meluluhlantakkan wilayah perairan sekitar Banten dan Lampung Selatan, Sabtu (22/2018) malam diduga disebabkan oleh dua hal.

Pertama erupsi Gunung Anak Krakatau dan dugaan lainnya karena gelombang tinggi akibat faktor cuaca di perairan Selat Sunda.

"Kami masih cari penyebabnya, dugaan sementara adalah karena longsor bawah laut akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan juga gelombang tinggi karena purnama. Sementara karena kedua gejala alam itu terjadi bersama. Tetapi kami akan terus dikaji, apa benar seperti itu," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantor BPBD DIY, Minggu (23/12/2018), dikutip dari Tribun Jogja.

Sekitar pukul 21.03 WIB, BMKG mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Di satu sisi sejumlah tide gauge (alat pendeteksi tsunami) BMKG menunjukkan ada potensi kenaikan permukaan air di pantai sekitar Selat Sunda.

"Dan kami analisis, kami memerlukan waktu analisis apakah kenaikan air itu air pasang akibat fenomena atmosfer yang tadi ada gelombang tinggi? Jadi memang ada fase seperti itu. Namun ternyata setelah kami analisis lanjut gelombang itu merupakan gelombang tsunami," kata dia.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan masih mendalami apakah ada kaitannya tsunami dengan aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau.

"Pada pukul 21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami. Pertanyaannya, apakah tsunami tersebut ada kaitannya dengan aktivitas letusan? Hal ini masih didalami karena ada beberapa alasan untuk bisa menimbulkan tsunami," kata Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan di Kantor PVMBG, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018).

Berbicara mengenai Anak Krakatau, gunung satu ini memang tidak pernah 'istirahat'.

Melansir dari Kompas.com, Gunung Anak Krakatau hampir setiap hari meletus. Pada Agustus 2018 lalu, di Selat Sunda ini sampai erupsi sebanyak 576 kali dalam sehari.

Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Nelayan Ini Dihempas Tsunami Selat Sunda 3 Kali, Terombang-ambing di Laut, Lalu Mukjizat Datang, http://jabar.tribunnews.com/2018/12/25/nelayan-ini-dihempas-tsunami-selat-sunda-3-kali-terombang-ambing-di-laut-lalu-mukjizat-datang
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved