Breaking News:

Cerita di Balik Janda Tunanetra yang Doakan Molen Jadi Presiden

Matanya tidak bisa melihat. Berdoa, tiap malam tahajud. Cita-citanya (supaya) ada di sini (mencari jalan keluar). Dia jual jamu tradisional

Penulis: Dedi Qurniawan |
BANGKA POS / DEDY QURNIAWAN
Ibu Samik saat memijit Wali Kota Pangkalpinang Maulan Aklil (Molen), Jumat (4/1/2019). Samik datang menemui Molen pada program Jumat Bahagia yang baru saja dimulai pagi tadi. 

Ditemui setelah bertemu Molen, Samik bercerita bahwa rumah dan seisinya habis saat Pangkalpinang dilanda banjir besar beberapa tahun lalu.

Tak lama setelah itu, suaminya meninggal dunia, dan Samik, seorang diri menghidupi keluarganya.

Matanya semakin parah karena banyak menangis setelah suaminya meninggal dunia. "Mata saya ini meletus (semakin parah). Jadi saya tidak sanggup lagi mencari (bekerja).

Sebelumnya saya bisa melihat sedikit-sedikit," ucap Samik. Dia kembali menangis.

Sejak saat itu, ia hidup seorang diri dari pekerjaannya memijit dan berjualan jamu. Kehidupan ekonomi empat anak-anaknya yang telah menikah belum bisa banyak membantu dirinya.

Ia sempat berniat membeli blender untuk membuat minuman dingin dan berjualan Tekwan di sekitar rumahnya.

"Tetapi tidak pernah bisa beli blender. Saya juga mau jual tekwan dulu, tetapi tidak sanggup lagi, mata ini tidak kelihatan lagi. Jadi sejak saat itu saya terus berdoa, minta kami diberi jalan keluar," katanya.

Samik berharap usaha jamunya bisa dibantu. Sebab, usahanya itu sering kurang modal. Sebelumnya kendala kurang modal ini bisa ia akali dengan encari tambahan lewat jasa memijit.

"Kalau sekarang ngurut ini terbatas, paling hanya satu orang, dan untuk makan sehari-hari. Saya berharap bisa dibantu modalnya, tidak mungkin saya berutang, dari mana saya bayarnya," ucap Samik

Sejumlah warga datang pada hari perdana program Jumat Bahagia pagi tadi. Mereka ada yang mengadukan ingin meminjam mobil dinas Pemkot untuk pindahan rumah, mengeluhkan kesusahan air bersih di lingkungan tempat tinggal, hingga meminta Molen menemui warga yang menolak pengaspalan jalan.

Semua keluhan dan permintaan itu dicatat untuk ditindaklanjuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. "Di lingkungan kami itu ada 19 kepala keluarga yang mengontrak.

Tentunya nanti (sering) perlu mobil untuk pindah-pindah, karena itu saya minta izin bisa pinjem mobil kalau mau pindah," kata Ahmad, warga Bukit Merapin. (BANGKAPOS.COM /Dedy Qurniawan)

Sumber: Bangka Pos
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved