Didit Srigusjaya Sewa Teman Untuk Dapatkan Nomor Ponsel Calon Istri
Didit Srigusjaya rela membayar temannya berapa saja asal bisa mendapatkan nomor HP calon istri.
Didit Srigusjaya menuturkan setelah solat subuh, dirinya berjualan berbagai jenis kue seperti roti goreng, onde-onde, roti ambon di seputaran Koba. Setelah jualan kue, siap-siap untuk ke sekolah di SD 291 Koba.
Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan, Didit kecil harus rutin untuk membantu orangtua.
Setelah pulang sekolah, Didit Srigusjaya juga membantu orang tuanya berjualan empek-empek dan bakmie. Targetnya sebelum pukul 07.00 WIB harus sudah pulang untuk siap-siap ke sekolah. Setelah pulang sekolah, Didit Srigusjaya kembali berjualan tetapi bukan kue melainkan bakmie.
"Sampai saya SMP masih jualan keliling Koba bantu orang tua. Pagi setelah bangun langsung jualan. Lalu pulang siap-siap ke sekolah. Setelah pulang sekolah jualan lagi. Itulah rutinitas yang harus saya jalani sejak ditinggal sang ayah, dari SD sampai SMP," ungkap Didit. Profesinya sebagai penjual kue dan bakmie bertahan hingga kelas 2 SMP di SMP PGRI. Saat memasuki kelas 3 SMP, Didit dibebaskan dari aktivitas jual kue guna mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir.
"Sehari kadang laku semua, kadang hanya sebagian, sehingga pulang sekolah harus jual lagi yang masih sisa, sambil juga jual bakmie. Saya betul menikmati jadi penjual kue," kisah Didit Srigusjaya.
Setelah menamatkan pendidikan di SMP PGRI Koba, Didit Srigusjaya melanjutkan sekolah ke SMA Muhammadiyah Pangkalpinang.
"Saat SMA, saya sungguh merasakan bagaimana suka-duka kalau mau pulang ke Koba. Setiap hari Sabtu saat mau pulang, kadang tidak punya uang untuk ongkos, terpaksa harus berdiri berjam-jam di sekitaran Toko Anggrek, sekarang dekat BTC untuk tahan mobil orang, numpang ke Koba. Kadang orang naikin kita tetapi dengan terpaksa, kadang tidak dapat tumpangan, karena itu harus batal kembali ke Koba," kisah Didit Srigusjaya.
Pengalaman mencari kendaraan tumpangan ke Koba semasa SMA menjadi insipirasi bagi Didit Srigusjaya setelah menjadi pejabat dan memiliki mobil dinas, dirinya selalu memberikan tumpangan kepada orang yang ingin pulang ke Koba.
"Pengalaman waktu SMA membuat saya sekarang, kalau lihat orang mau pulang ke Koba atau di jalan, selalu naikkin mereka di mobil dinas yang saya tumpangi," ungkap Didit Srigusjaya.
Saat duduk di bangku SMA, Didit Srigusjaya terus mengasa niat dan cita-citanya untuk menjadi seorang tentara. Karena itu dirinya pernah mengikuti tes di TNI AD dan angkatan laut.
"Saya dari kecil cita-cita jadi seorang tentara untuk ikut sang ayah. Dua kali tes tetapi selalu gagal. Gagalnya selalu di Pantohir," kisah Didit.
Karena sudah dua kali gagal seleksi menjadi tentara baik di AD maupun angkatan laut maka Didit melanjutkan kuliah. Setelah tamat dari SMA Muhamaddiyah tahun 1994, Didit melanjutkan kuliah Diploma Survey dan Pemetaan Teknik Geodesi ITB Bandung dan berhasil menyelesaikan studi tahun 1997.
"Waktu kuliah, untuk hemat biaya, terpaksa harus tinggal di rumah keluarga," ceritera Didit Srigusjaya.
Setelah mendapatkan gelar Diploma, Didit mencari kerja, bahkan bekerja di proyek pembukaan lahan di Sumatera Barat selama tiga bulan. Didit kemudian memutuskan kembali ke kampung halamannya di Koba, sekitar tahun 1997/1998 saat PT Koba Tin membuka peluang pegawai dan usaha untuk warga Koba. Untuk menjemput peluang tersebut, pengalaman Didit sebagai aktivis saat kuliah, mengikuti demonstrasi, melanjutkan naluri aktivisnya untuk berdemo di PT Koba Tin.
"Ada peluang menjadi pegawai dan usaha. Tetapi kita pakai cara demo dulu. Memang dari mahasiswa sudah jadi aktivis. Maka kembali ke kampung halaman juga lanjutin kegiatan aksi demo," ungkap Didit Srigusjaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/didit-srigusjaya-bersama-istri-dan-anak-anaknya.jpg)