Perasaan Ditinggalkan dan Terpukul Membuat Soeharto Tak Punya Pilihan Lain Kecuali Mundur

Perasaan ditinggalkan, terpukul, telah membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan lain kecuali memutuskan untuk mundur.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Kolase Tribun Bogor
Soeharto Pernah Ungkapkan Soal Penerusnya Jadi Presiden Indonesia 

Kesmpatan itu digunakan mereka untuk menyarankan agar Kabinet Pembangunan VII dibubarkan saja, bukan di-reshuffle.

Dengan tujuan agar mereka yang tidak terpilih dalam kabinet reformasi tidak terlalu “malu” dan ia mengatakan, bahwa, “Urusan cabinet adalah urusan saya”.

Dengan demikian usul agar kabinet dibubarkan tidak jadi disampaikan dan pembicaraan beralih ke masalah perkembangan di masyarakat.

Tanggal 19 Mei 1998

Presiden Soeharto bertemu dengan para ulama dan tokoh masyarakat pada pukul 09.00 WIB – 11.32 WIB.

Kemudian, Presiden Soeharto mendeklarasikan akan segera mengadakan re-shuffle Kabinet Pembangunan VII sekaligus mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi.

Bahkan, Presiden Soeharto sempat membentuk Komite Reformasi.

Terungkap Pesan Terakhir Soeharto Kepada Mbak Tutut: Allah tidak Sare

Pada sore harinya, Nurcholish menuturkan bahwa gagasan reshuffle kabinet dan membentuk Komite Reformasi itu murni gagasan Soeharto dan bukan usulan mereka.

Dalam pertemuan yang dibuat kala itu, sudah menunjukkan tanda-tanda Soeharto akan mengundurkan diri.

Adapun dua orang tidak setuju bila Soeharto dinyatakan mundur dari jabatannya karena menurutnya kemunduran Soeharto tidak akan menyelesaikan masalah yang ada pada saat itu.

Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita bersama dengan Memperindag Mohammad Hasan melaporkan kepada Presiden masalah kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan pembakaran pada pukul 16.30 WIB.

Saat itu mereka bersama dengan Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng yang melaporkan soal rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan mundur.

Menko Ekui pun menyebut adanya reaksi negative para senior ekonomi: Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli dan Frans Seda, atas rencana Soeharto yang membentuk Komite Reformasi dan melakukan reshuffle kabinet.

Kesimpulannnya, mereka menyebut tindakan itu mengulur-ulur waktu.

Tanggal 20 Mei 1998

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved