Berita Eksklusif

Tebat Rasau Tandus, BP Geopark Belitong hingga Pegiat Lingkungan Kompak Soal TI Ilegal di Sungai

Ketua BP Geopark Pulau Belitong Yuspian sangat menyayangkan kekeringan yang dialami tempat wisata Tebat Rasau.

Editor: Jaryanto
POS BELITUNG/SUHARLI
Aparat menertibkan tambang inkonvensional (TI) ilegal jenis rajuk di seputaran daerah Aliran Sungai (DAS) Lenggang, Pulau Dapor, Desa Selingsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, beberapa waktu lalu. 

Tebat Rasau Rusak, BP Geopark Belitong hingga Pegiat Lingkungan Kompak Soal TI Ilegal di Sungai

POSBELITUNG.CO, BELITUNG TIMUR - Ketua BP Geopark Pulau Belitong Yuspian sangat menyayangkan kekeringan yang dialami tempat wisata Tebat Rasau. Sebab lokasi tersebut masuk dalam 10 geosite unggulan Pulau Belitung.

Padahal belum lama ini, tim asesor UNESCO Global Geopark (UGG) telah berkunjung ke geosite yang terdapat di Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) tersebut.

"Maksud kami menempatkan Tebat Rasau sebagai satu dia ntara geosite kan untuk memproteksi biodiversity di situ karena sifatnya program geopark ini kan mendukung lingkungan. Justru kami ingin menjaganya," ucap Yuspian kepada posbelitung.co, Rabu (24/7/2019).

Ia mensinyalir kegiatan penambangan ilegal ikut memengaruhi kondisi ini. Yuspian menyarankan Bendungan Pice saat musim kemarau ini agar ditutup.

"Secara teori kan memang kalau kemarau harus bendungan ditutup. Kalau musim hujan baru dibuka karena debit air berlebih. Tapi kondisinya juga sekarang kalau tidak dibuka, air PDAM Gantung yang tercemar. Kata kuncinya kenapa tercemar karena ada kegiatan TI ilegalnya. Kalau ilegal harus dihentikan atau ditangkap istilahnya," kata Yuspian.

Kondisi objek wisata Tebat Rasau, Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur kering kerontang, Selasa (23/7/2019).
Kondisi objek wisata Tebat Rasau, Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur kering kerontang, Selasa (23/7/2019). (POS BELITUNG/SUHARLI)

BP Geopark sendiri berencana melayangkan surat kepada pemerintah daerah, bupati. Mereka berharap geosite tersebut agar dapat dilindungi.

"Kalau ikan-ikannya mati dan sungai tidak berfungsi lagi sebagai sungai, ya selesai lah kita," tegas Yuspian yang juga menjabat Kepala Badan Kepegawaian, Pelatihan dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Beltim ini.

Ia menegaskan kejadian ini hendaknya menjadi pelajaran semua pihak. Apalagi program geopark merupakan program jangka panjang.

Menurut Yuspian, dibutuhkan waktu sekitar satu mingguan agar air yang ada di Tebat Rasau kembali terisi. Itupun dengan catatan pintu Bendungan Pice harus ditutup.

BP Geopark Pulau Belitong juga mendesak agar aktivitas tambang inkovensional (TI) yang beroperasi di daerah aliran sungai (DAS) Sungai Lenggang segera dihentikan.

"Untuk jangka panjang akan dilakukan pengkajian lebih mendalam faktor-faktor penyebabnya. Apakah faktor tunggal karena dibuka itu tadi atau ada faktor lain karena dampak banjir 2017 lalu yang mengubah pola aliran air atau segala macam karena dari banjir dulu kan banyak yang berubah," jelas Yuspian.

Jembatan susur objek wisata Tebat Rasau.
Jembatan susur objek wisata Tebat Rasau. (POS BELITUNG/SUHARLI)

Ketua Ahli Geologi Kepulauan Bangka Belitung, Adryanton Putra Markam juga menyoroti terkait kekeringan yang dialami Tebat Rasau.

" Tebat Rasau itu tercipta dari buah bukit magnetik, yakni Bukit Puntung dan Bukit Harimau. Jadi kedua bukit tersebut sumber mata airnya. Jadi di situ terjadi gravitasional colev atau sesar turun. Zona turun itulah yang secara morfologi menghasilkan tubuh air di situ," jelas pria yang akrab disapa Andrey tersebut.

Halaman
12
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved