LIPSUS KOPI

Kopi Lokal Belitung Punya Aroma dan Rasa Yang Khas

Kopi Belitung padat dan solid. Dari segi fisik bentuknya lebih kecil daripada kopi gunung. Begitu di-roasting lebih berat dan airnya sediki

Tayang:
Editor: Rusmiadi
Pos Belitung /Suharli
Pemilik Coffe Shop Camar, Abdul Rachim saat melakukan proses pembuatan kopi dengan menggunakan Rok Presso. Selasa (29/10/2019) posbelitung /Suharli 

POSBELITUNG.CO - Tanaman kopi Pulau Belitung disebut kopi pesisir karena tumbuh pada ketinggian 10 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara di daerah lain varietas yang sama yakni jenis Robusta ditanam di kisaran 400 mdpl (daerah pegunungan).

"Kopi Belitung padat dan solid. Dari segi fisik bentuknya lebih kecil daripada kopi gunung. Begitu di-roasting (panggang) lebih berat dan airnya sedikit. Kalau kopi gunung banyak mengandung air," ujar Bambang Irawan, pengusaha kopi asal Belitung Timur (Beltim), Selasa (29/10/2019).

Lelaki yang akrab disapa Bang Ir ini menambahkan, dari aroma seperti buah berry. Sementara kopi gunung beraroma palm sugar, vanila, dan seperti kacang-kacangan. Kemudian dari segi rasa, sedikit pedas yang ditengarai karena penanamannya dekat lada.

Kekhasan itulah yang kemudian membuat Bang Ir mengembangkan serta mengolah kopi pesisir,
khususnya di Beltim sejak tiga tahun belakangan. Tercatat sekitar 100 petani menjadi binaan meskipun belum semuanya panen karena sebagian besar menanam awal 2018 lalu.

Menurut Bang Ir, dari keseluruhan kebun di Beltim baru sekitar lima hektare yang sudah berbuah. Lokasinya pun tersebar seperti di Lintang, Lilangan, dan Kelapakampit.

"Yang sudah panen mungkin sekitar 10 petani kopi, yang lain belum berbuah," ujarnya sembari menambahkan di Beltim sebelumnya sudah ada tanaman kopi, tetapi karena tidak laku petani menebangnya lalu mengganti tanaman lain.

Mengenai produk olahan, Bang Ir berkisah telah memulainya sejak tiga tahun lalu. Bahan baku dibeli dari petani lokal, tepatnya di Desa Lilangan sebanyak 200 kilogram (kg) seharga Rp 25.000 per kg.

Produk yang diberi label "Kopi Kater" tersebut ada tiga varian, yakni jahe, O (original), dan kopi tongkat ali. Pemasarannya pun hanya khusus di Pulau Belitung. "Saya menitipkan di 30 gerai. Biasanya dua hingga tiga bulan habis terjual," ucapnya.

Seiring waktu, warung atau kedai kopi makin banyak sementara produksi petani lokal masih terbatas. Keterbatasan biji kopi membuat harga ikut melambung yang kini mencapai Rp 45.000.

Bang Ir mengaku kadang tidak kebagian biji kopi. Tetapi kondisi tersebut disikapi secara positif karena artinya kopi Belitung mulai diterima masyarakat.

"Mulai bermunculannya petani kopi baru diharapkan produksi dari Belitung Timur bisa meningkat dan harga pun bisa stabil," katanya.

Keberadaan perkebunan kopi di Beltim membuat Abdul Rachim penasaran terhadap rasanya. Menurut pria yang akrab disapa Boim ini, karakter di setiap daerah berbeda meskipun varietasnya sama.

"Adanya kopi lokal menurut saya bagus sebab rata-rata warung kopi di sini (Beltim, red) kan bahan bakunya dari luar Pulau Belitung. Tentu saja dampaknya bisa mendorong ekonomi masyarakat," ujarnya.

Pemilik merek Kopi Camar ini berpendapat, secara pribadi sudah beberapa kali menikmati biji kopi Belitung, khususnya dari Lilangan dan Lenggang.

Ada karakter rasa unik, yaitu pahit atau bitter tinggi dengan acidity (keasaman) rendah namun masih terasa.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved