LIPSUS KOPI

Kopi Lokal Belitung Punya Aroma dan Rasa Yang Khas

Kopi Belitung padat dan solid. Dari segi fisik bentuknya lebih kecil daripada kopi gunung. Begitu di-roasting lebih berat dan airnya sediki

Tayang:
Editor: Rusmiadi
Pos Belitung /Suharli
Pemilik Coffe Shop Camar, Abdul Rachim saat melakukan proses pembuatan kopi dengan menggunakan Rok Presso. Selasa (29/10/2019) posbelitung /Suharli 

Dua Kilo Sehari
Satu dari sekian warung atau kedai kopi di Belitung Timur (Beltim) adalah Warkop Ated. Tempat ini bisa dikatakan legendaris karena berdiri sejak 1949 silam. Lokasinya di dekat Pasar Lipat Kajang Manggar.

Sebelumnya Ated, orang mengenal Wakop A Fuk. Penamaan berubah seiring bergantinya pemilik.
Ated menyebut, selama ini menggunakan bahan baku bubuk kopi dari luar Pulau Belitung. Sedangkan produksi asli Belitung, dia mengaku belum mengetahui.

"Itu tergantung dari pengelolanya. Di sini ada penggiligannya, ada yang dicampur ada yang tidak, tergantung," ujarnya kepada Pos Belitung, pekan lalu.

Ia menjelaskan, rata-rata menghabiskan dua kilogram bubuk kopi per hari. Itu dipengaruhi banyak sedikitnya pengunjung.

Disinggung penggunaan bahan baku asli tanaman Belitung, Ated belum bisa memastikan. Sebab rasanya bisa sama atau tidak.

"Kalau orang sudah minum kan kebiasaan, susah mengubahnya," ujarnya.

Selama 70 tahun berdiri, Ated terus mempertahankan rasa kopinya agar pelanggan tidak berpaling. Setiap hari selalu ada yang datang meski hanya sekadar nongrong. Warkop buka setiap mulai pukul 04.00-15.00 WIB kecuali Minggu cuma setengah hari.

"Dulu pengungjung tidak ramai, kalau sekarang di tempat saya ini biasanya ada PNS yang nunggu istrinya belanja, pekerja tambang kalau pagi sebelum berangkat kerja, dinas-dinas. Macam-macam latar belakang kumpul di sini, wisatawan juga biasanya ke sini," ujar Ated.

Pasokan Kopi dari Lampung
Produsen bubuk kopi di Manggar, Belitung Timur (Beltim) satu di antaranya Sumber Coffee. Menurut Wendy selaku pemilik, penjualannya menurun sejak enam bulan terakhir. Biasanya berkisar 400-500 kg per bulan kini 300-400 kg.

"Ini dikarenakan perubahan permintaan konsumen atas kopi tersebut," ujar Wendy kepada Pos Belitung, Selasa (29/10).

Tren ini menurutnya bakal terus berlanjut karena anak-anak muda sekarang hobi mencoba hal-hal baru. Dulu ia bisa memastikan warkop A, B, dan C mengambil kopi darinya. Tapi sekarang sudah tak bisa larena memang teknik dan penambahan komposisi seperti susu dan sebagainya.

Mengenai bahan baku biji kopi ia membeli dari petani kopi di Lampung. Karena menurutnya karakteristik kopi di sana cocok dengan standar dari perusahaannya. Adapun ciri khasnya aromanya harum.

Mengenai kemungkinan akan mengambil dari petani kopi lokal, ia akan mempertimbangkannya. Sebab belum tahu seperti apa kualitas dan pengolahannya.

"Kami sudah 30 tahun mendirikan industri bubuk kopi yang sekarang ini. Jadi kalau memang nanti setelah dicoba cocok dengan karakteristik kita, ya kenapa tidak," kata Wendy.

Ia menyatakan, produksi kopinya juga bergantung kepada cuaca. Termasuk saat kemarau berkepanjangan seperti sekarang ini.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved