Berita Belitung

Destika Sarankan Produksi Lada Dijadikan Oleh-Oleh Khas Belitung, Kemasan Harus Lebih Menarik

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Belitung Destika Effenly mengatakan, sejauh ini belum melihat pengemasan lada untuk dijadikan buah tangan

Tayang:
Penulis: Disa Aryandi |
posbelitung.co/Wahyu Kurniawan
Proses menjemur lada. 

POSBELITUNG.CO,BELITUNG-- Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung Destika Effenly mengatakan, sejauh ini belum melihat pengemasan lada untuk dijadikan buah tangan atau oleh-oleh yang sangat menarik dari Negeri Laskar Pelangi.

Apabila dikemas dengan sebaik mungkin, lada ini bisa membuat ekonomi yang menjanjikan sebagai buah tangan. Tidak perlu mahal, cukup dengan harga Rp 20.000 saja dijual kepada wisatawan, mengingat Belitung merupakan daerah wisata.

"Itu untuk oleh-oleh dibagikan kepada tetangga, ini loh oleh-oleh dari Belitung. Cukup kemasannya, seperti kotak rokok terus ada ladanya yang menampak sedikit. Kalau selama ini kan packingnya menggunakan botol, tapi itu hanya strategi pemasaran saja,"saran Destika disampaikan kepada Posbelitung.co, Sabtu (14/12/2019).

IHal ini ke depannya harus menjadi pemikiran bersama, agar pemasaran lada bukan hanya mengandalkan pengiriman lada tanpa kemasan saja.

"Lada yang sudah dikemas. Kalau kualitas lada itu sendiri, sewaktu proses pasca panen dengan saat perendaman lada, itu masih jauh kualitas nya memang," bebernya.

Lanjut dia, agar kualitas lada tersebut tetap bagus, maka diperlukan perendaman lada yang baik, diantranya dengan menggunakan teknologi bak pencucian lada.

"Itu lebih cepat hasilnya dan lebih bagus. Kita pernah terima bantuan dari LIPI soal bak pencucian itu dan teknologinya sederhana sekali. Itu mencuci ladanya cepat dan bersih lagi, dan itu yang akan digunakan ke depan, disamping kita menggunakan produktifitasnya," pungkasnya.

Lada putih Bangka yang sudah dikemas sebagai salah satu komoditas ekspor dengan pasar hingga Eropa.
Lada putih Bangka yang sudah dikemas sebagai salah satu komoditas ekspor dengan pasar hingga Eropa. ((Kompas.com/ Heru Dahnur))

 Harga Lada Murah

Diberitakan sebelumnya, petani lada di Kabupaten Belitung belakangan ini, mulai  mengeluhkan harga lada yang tidak kunjung naik.

Kondisi ini sangat berdampak bagi petani tersebut, dan bukan tidak mungkin kurun waktu tertentu petani lada ini, mulai meninggalkan tanaman mereka.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung Destika Effenly mengatakan, khusus untuk lada tersebut tentu tidak boleh ditinggalkan oleh petani. Lantaran Lada Belitung merupakan lada berskala nasional.

"Tidak boleh di tinggalkan, karena lada ini lada nasional. Sekarang ini sebetulnya bukan produksi kita yang kurang, tapi harga yang jatuh, jadi produksi mengikuti," ungkap Destika kepada Posbelitung.co, Sabtu (14/12/2019).

Tanaman lada atau dikenal masyarakat Bangka Belitung dengan sahang yang sudah berbuah
Tanaman lada atau dikenal masyarakat Bangka Belitung dengan sahang yang sudah berbuah (Posbelitung/suharli)

Harga lada itu menjadi rendah, kata Destika, harus kembali dilakukan pengaturan, agar bisa 'bermain di hilir'.

"Ini banyak petani lada yang kurang, karena harga turun. Untuk membangkitkan semangat petani lada itu lagi, kami tetap memberikan support dengan cara memberikan subsidi terhadap bibit dan junjung lada itu," jelas Destika.

Sedankan untuk bantuan pupuk diakuinya  sangat sedikit sekali. Bantuan tersebut, pada tahun 2020 mendatang akan menggunakan APBN.

"Termasuk perluasan area tanam di Belitung ini sekitar 600 hektar. Nah satu hektar itu tanaman lada 2.000 pohon, kalikan saja 600 hektar, itu lah bantuan yang akan disalurkan nanti dan itu termasuk junjungan sahang," bebernya. (Posbelitung.co/Disa Aryandi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved