Virus Corona di Belitung

Direktur RSUD H Marsidi Judono Kabupaten Belitung Beberkan Biaya Rapid Test

Menurutnya untuk biaya rapid test tersebut apabila dikomersilkan memang terbilang mahal, antara Rp 350.000,- hingga Rp 400.000,-

Penulis: Disa Aryandi | Editor: Ardhina Trisila Sakti
Dokumentasi Pos Belitung
Warga di Pasar Manggar saat dilakukan rapid test, Jumat (5/6/2020) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Direktur RSUD H Marsidi Judono Kabupaten Belitung dr Hendra mengaku untuk rapid test yang diperuntukkan kepada mahasiswa dan pelajar terlebih dahulu akan dilakukan pembahasan.

Apakah untuk rapid test tersebut dilakukan di Puskesmas atau RSUD.

"Kalau di rumah sakit selama ini memang gratis, tidak ada yang bayar. Ya kalau bayar kami kurang paham, karena itu yang ada di rumah sakit swasta," ujar Hendra kepada posbelitung.co, sabtu (13/6/2020).

Menurutnya untuk biaya rapid test tersebut apabila dikomersilkan memang terbilang mahal, antara Rp 350.000,- hingga Rp 400.000,- atau tergantung rumah sakit tersebut. Namun biaya tersebut belum termasuk komponen lain.

"Itu belum termasuk jarum rapid test, APD petugas, tabung untuk sampel darah, terus tabungnya, dan komponen lain. Kalau di rumah sakit umum memang tidak ada biaya, karena hanya untuk kebutuhan tracking, kalau swasta semua beli, kalau pemerintah banyak bantuannya," pungkasnya.

Mahasiswa dan Pelajar Butuh Rapid Test

Pemerintah Kabupaten Belitung sudah merencanakan rapid test subsidi untuk mahasiswa dan pelajar yang ingin kembali kampus. Lantaran hasil rapid test tersebut untuk keperluan atau persyaratan melakukan penerbangan.

Biaya rapid test memberatkan mahasiswa yang ingin kembali menempuh pendidikan di perantauan.

Pemerintah Kabupaten Belitung dan DPRD Kabupaten Belitung kini sudah membahas tentang rapid test, khusus mahasiswa dan pelajar.

"Insya Allah itu akan kami akomodir dan kami sudah mendapat saran juga dari DPRD untuk urusan rapid test mahasiswa dan pelajar ini. Itu kami sudah rencanakan akan kami subsidi untuk mahasiswa yang ingin balik ke kampus lagi menempuh pendidikan," ungkap Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem) kepada Posbelitung.co, sabtu (13/6/2020).

Terkait dengan berapa besar subsisi biaya rapid test sebesar 100 persen. Namun ia tidak ingin mengatakan gratis, lantaran Tim Gugus Tugas Penanganan Pencegahan Covid-19 tetap membayar biaya rapid test tersebut kepada Puskesmas.

"Jadi tidak gratis, jadi pemerintah yang bayar. Itu tujuan nya kemana saja, termasuk mahasiswa yang ingin ke Bangka, atau Sumatera, jadi bukan hanya Pulau Jawa saja. Tapi kami akan rapat dulu membahas ini, untuk menetapkan nya, kapan akan di berlakukan," bebernya.

Bukan hanya mahasiswa tentu yang akan di akomodir oleh Pemerintah untuk urusan rapid test tersebut.

Namun untuk pelajar yang baru melakukan pendaftaran baru atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang dituju.

"Itu nanti mereka cukup membawa surat keterangan dari sekolah atau Desa setempat yang diketahui orang tua ke tempat rapid test tersebut, menyebutkan bahwa pelajar itu ingin melanjutkan pendidikan. Tapi untuk mahasiswa cukup bawa kartu pelajar saja," ujarnya.

(Posbelitung.co/Disa Aryandi)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved