WIKI BELITUNG
Serunya Berburu Madu di Tebat Rasau Belitung Timur, Per Botol Madu Hutan Dijual Rp100.000
Mengambil madu hutan atau biasa disebut muar madu oleh orang Pulau Belitung, masih sering dilakukan oleh beberapa warga Desa Lintang
POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Mengambil madu hutan atau biasa disebut muar madu oleh orang Pulau Belitung, masih sering dilakukan oleh beberapa warga Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Darmawi satu di antara warga desa Lintang sejak pagi sudah tampak bersiap menyiapkan perlengkapan yang akan biasa digunakannya untuk muar madu.
Diantaranya ember dan sebilah parang, dalam perjalanan menuju lokasi sarang lebah madu yang tidak jauh dari lokasi wisata Tebat Rasau.
Baca juga: Ketua DPRD Belitung Timur Sebut Sudah 3 Tahun Tunjangan di DPRD Tak Ada Perubahan, Ini Besarannya
Baca juga: Detik-detik Tabung Oksigen untuk Pasien Isoman Meledak saat Isi Ulang, Seorang Pekerja Terluka
Dia menyempatkan menebang daun nangak (sejenis tanaman palm) dan mengumpulkan ranting-ranting kayu kering kemudian memotong dedaunan yang masih basah dilengkapi dengan lembaran daun nangak.
Rantingnya sudah terkumpul itu kemudian dibalutnya dengan daun yang sudah dikumpulkan beserta dengan daun nangak selanjutnya diikat dengan kumpulan daun lainnya, kemudian dibakar tepat di bagian tengahnya hingga mengepulkan asap.
Asap itu kemudian digunakan untuk mengusir madu dari sarangnya agar lebih memudahkan proses muar madu.
Sarang lebah yang sudah ditinggalkan oleh lebahnya selanjutnya dipotong oleh Darmawi menjadi beberapa bagian, kemudian potongan yang berisikan madu itu dimasukan kedalam ember.
Selama proses panen, asap harus dipastikan terus mengepul agar lebah tidak menyerang.
Umumnya lebah itu bersarang di hutan kerangas, oleh warga sekitar dibuatkan semacam tempat yang dapat dihinggapi madu terbuat dari kayu pajang yang disanggah dengan kayu lainya, mereka menyebutnya dengan sunggaran.
"Kalau panennya berapa banyak, tergantung dari berapa banyak sunggaran yang di pasang, tapi kadang ada juga sunggar yang tidak dihinggapi," ungkap Darmawi kepada Posbelitung.co beberapa waktu lalu.
Adanya madu hutan itu menjadi berkah bagi mereka, keberadaan lebah madu itu diambil untuk dijual.
Baca juga: Ditemukan Bongkahan Koin Seberat 6 Kg Berusia 1.700 Tahun dari Masa Pra-Islam
Baca juga: Janda Muda Kesepian, Status PNS Ditinggal Suami, Terungkap Jalin Cinta dengan Pria Beristri
Perbotol, ukuran 750 mililiter madu hutan di hargai Rp100.000, kalau untuk rasa dari madu tergantung dari musim bunga.
Dia mengatakan, saat musim bunga biasanya bisa memanen sekitar lima tempat yang sudah dipasang sunggaran.
Pembeli madu tersebut umumnya masih didominasi oleh warga lokal.
Darmawi mengaku untuk kebutuhan lokal saja belum bisa mencukupi, kebanyakan warga sudah memesan terlebih dulu, saat madu sudah tersedia langsung diantar ke pemesan.
(Posbelitung.co/Suharli)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20210813-madu1.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20210813-madu3.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/29210813-madu3.jpg)