Berita bangka Tengah

Petani Karet Bangka Tengah Mengeluh, Harga Hanya Rp6 Ribu per Kilogram

Dengan harga ini jauh di bawah biaya yang dikeluarkan para petani, sehingga komoditi ini menilai tidak bisa mensejahterakan.

Tayang:
Penulis: Arya Bima Mahendra |
istimewa/net
Petani sedang menyadap pohon karet. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA – Petani karet Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengeluh, harga karet di tingkat petani jatuh hingga berkisar Rp5.000 - Rp6.000 per kilogram.

Dengan harga ini jauh di bawah biaya yang dikeluarkan para petani, sehingga komoditi ini menilai tidak bisa mensejahterakan.

Apalagi jika para petani karet itu harus mengupah jasa orang yang membantu proses penyadapan.

Sainah (67), salah seorang petani karet asal Desa Sungai Selan Atas, Kecamatan Sungaiselan, Bangka Tengah mengaku, meski harus terseok-seok, dirinya masih tetap mempertahankan sejumlah pohon karet yang ada di kebun miliknya.

Wanita paruh baya itu mengaku masih bertahannya dia menjadi petani karet lantaran itu sudah menjadi usaha dia dan almarhum suaminya sejak dulu.

"Kalau ditanya untung atau enggak, sebenarnya udah enggak ada lagi untungnya itu. Cuma saya masih sayang aja kalau mau ditebang semua," ungkap Sainah, Senin (17/7/2023).

Kini, perkebunan karet milikinya masih ada sekitar setengah hektare atau tersisa kurang lebih 200 batang. Padahal dulunya, jumlah pohon karet milikinya justru lebih banyak lagi.

Hal itu pun membuat dirinya sudah jarang mengurusi karet miliknya dan perlahan-lahan mulai beralih mengurus sawit.

"Harga karet sekarang itu sekitar Rp5-6 ribu per kilogram. Jadi punya saya, saya suruh orang lain ngurusnya," jelasnya.

Kata dia, belasan tahun yang lalu, dirinya pernah merasakan menjual karet dengan harga Rp10 ribu per kilogram. Sayangnya hal tersebut sudah tidak pernah lagi dia rasakan sekarang.

"Kalau sekarang ini udah susah, enggak pernah lagi harganya sampai segitu," keluhnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah, Demsi Apriadi menjelaskan bahwa karet Rp5.000 - 6.000 per kilogram memang belum bisa menguntungkan petani.

"Idealnya itu pada harga Rp8.000 - 9.000 per kilogram," ungkap Demsi.

Kata dia, sebetulnya ada langkah dari pemerintah yang bisa dilakukan untuk menaikan kompetisi harga karet antara harga yang diterima petani dari tengkulak dengan harga yang diterima petani dengan kualitas yang terjamin.

Hal itu bisa dilakukan melalui program UPPB atau Unit Pengelolaan dan Pemasaran Bersama Bokar (Bahan Olahan Karet).

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved