Berita Populer

Betlehem Bak Kota Mati, Perayaan Natal Hanya Dirayakan Sederhana

Perayaan Natal di kota ini cukup mencekami,Minggu (24/12/2023).Padahal Betlehem dianggap sebagai kota kelahiran Yesus. Natal hanya dirayakan sederhana

Tayang:
istimewa
Warga Kota Betlehem yang terletak di Tepi Barat memutuskan untuk menggelar perayaan Natal 2023 secara sederhana tanpa ada dekorasi Natal patung sinterklas, lonceng gereja, pohon natal dan gemerlap lampu. (FT) 

Pejabat setempat mengatakan lebih 70 hotel di Bethlehem terpaksa ditutup, menyebabkan ribuan orang menganggur.

Toko suvenir sepi pada Malam Natal, meskipun ada beberapa toko yang dibuka setelah hujan berhenti turun.

Namun, pengunjungnya sedikit.

“Kami tidak bisa membenarkan menanam pohon dan merayakannya seperti biasa, ketika sebagian orang di Gaza bahkan tidak punya rumah untuk ditinggali,” kata Ala'a Salameh, sebuah pemilik restoran keluarga Afteem.

Salameh mengatakan, Malam Natal biasanya menjadi hari tersibuk dalam setahun.

“Biasanya tidak ada satu pun kursi kosong, kami penuh dari pagi hingga tengah malam,” kata Salameh.

Pada Minggu pagi, hanya satu meja yang terisi, oleh para jurnalis yang sedang istirahat dari hujan.

Di bawah spanduk bertuliskan “Lonceng Natal Bethlehem berbunyi untuk gencatan senjata di Gaza,” beberapa remaja menawarkan Santa tiup kecil, namun tidak ada yang membeli.

Alih-alih melakukan pawai tradisional melalui jalan-jalan Betlehem, para pramuka muda berdiri diam sambil mengibarkan bendera.

Sekelompok mahasiswa setempat mengibarkan bendera Palestina berukuran besar sambil berdiri dalam keheningan.

Baca juga : Biodata Santyka Fauziah Calon Istri Ketiga Komedian Sule, Ternyata Wanita Berdarah Arab

Seorang organis paduan suara Gereja Kelahiran, Shukry Mubarak, mengatakan kelompoknya mengubah banyak repertoar musik tradisional Natal dari lagu-lagu liburan yang menggembirakan menjadi himne yang lebih khidmat dengan kunci minor.

“Pesan kami setiap tahun pada Natal adalah pesan perdamaian dan cinta, tapi tahun ini pesan kesedihan, duka dan kemarahan di hadapan komunitas internasional atas apa yang terjadi dan terjadi di Jalur Gaza,” ujar Wali Kota Bethlehem, Hana Haniyeh, dalam pidatonya kepada orang banyak.

Dr Joseph Mugasa, seorang dokter anak, adalah salah satu dari sedikit pengunjung internasional.

Dia mengatakan kelompok turnya yang terdiri dari 15 orang dari Tanzania “bertekad” untuk datang ke wilayah tersebut meskipun dalam situasi seperti ini.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved