Pos Belitung Hari Ini

LIPSUS - Jerit Warga Desa di Bangka Belitung Terkepung Tambang, Sawit dan Tambak Udang

Sekelompok perempuan dari desa-desa sekitar Bangka Barat, Babel, terus berjuang mempertahankan hak-hak mereka atas tanah dan hutan.

Editor: Novita
Dokumentasi Posbelitung.co
Pos Belitung Hari Ini edisi Selasa, 8 Oktober 2024 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di tengah ancaman sawit, perempuan Bangka Barat berjuang pertahankan lahan dan hutan di tengah hamparan luas perkebunan sawit dan tambak udang yang mendominasi Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Sekelompok perempuan dari desa-desa sekitar terus berjuang mempertahankan hak-hak mereka atas tanah dan hutan.

Kelompok ini dipimpin oleh Rotini, Ketua Kelompok Perempuan “Berandun”, yang dengan gigih melawan tekanan dari perusahaan-perusahaan besar yang semakin menyempitkan ruang hidup warga desa.

“Kami sangat prihatin, desa kami dihimpit oleh perusahaan besar. Bahkan, salah satu desa kini telah dibangun tambak udang, jadi semakin menjepit desa kami,” kata Rotini dengan suara penuh keprihatinan.

Hal itu diungkapkan Rotini saat menghadiri acara ASEAN Declaration on Environmental Rights dan RUU Keadilan Iklim, Jumat (4/10/2024) di DK Belstar Hotel Belitung.

Perjuangan kelompok ini berawal dari perjuangan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada 2015, termasuk ketika mereka mulai merasakan ancaman dari perusahaan yang memasuki wilayah desa mereka.

Dari situ, muncul gagasan untuk membentuk kelompok yang beranggotakan 10 orang, sebagai langkah awal untuk memperkuat solidaritas dan menyusun strategi.

Aksi protes besar-besaran pun dilakukan di tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, dengan harapan suara mereka didengar.

“Kami demo besar-besaran untuk mempertahankan hak-hak kami,” kenang Rotini.

Namun, perjuangan ini tidak hanya berhenti pada protes. Rotini kemudian mengajak para ibu di desa untuk terlibat lebih aktif.

Kelompok perempuan ini tidak hanya menjadi wadah aktivitas, tetapi juga memantau kondisi lapangan secara langsung, khususnya di area-area yang berpotensi terdampak oleh aktivitas perusahaan.

Kini, ancaman terhadap desa semakin nyata. Perusahaan besar terus berusaha masuk, dan warga semakin terhimpit.

“Sangat prihatin, bulan lalu ada perusahaan baru yang datang. Kami khawatir, perusahaan besar ini akan semakin mempersempit lahan kami,” tutur Rotini.

Tak hanya bencana ekologis dan krisis kesehatan, konflik agraria juga terus meningkat di wilayah ini.

Dalam lima tahun terakhir, Walhi mencatat 15 konflik warga dengan aktivitas pertambangan, yang resonansinya terasa hingga 42 kampung.

Baca juga: 63.642 Warga Babel Terancam Dicoret dari Peserta BPJS Kesehatan, Pemprov Jangan Lepas Tangan

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved