Iran Vs Israel

Update Perang Iran vs Israel, Iran Tolak Gencatan Senjata dan Ajak Perang Israel dan AS

Buktinya, Iran menolak gencatan senjata dan tetap akan menyerang Israel dan Amerika

Tayang:
Editor: Alza
X Khamenei/@khamenei_ir/Kantor berita resmi negara Iran, IRNA/Tribunnews.com
ALI KHAMENEI - Kolase foto Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran tolak berdamai dan ingin berperang dengan Israel dan AS. 

“Dewan Keamanan tidak dapat tinggal diam.

Kami mendesak penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, dan kembali ke jalur negosiasi,” ucap Guo.

Namun, harapan akan adanya keputusan bulat menghadapi rintangan besar.

AS diperkirakan akan menggunakan hak vetonya jika rancangan resolusi itu dianggap mengancam kepentingannya.

Iran Siapkan Balasan Lebih Besar

Hingga kini, Iran dan Israel masih terlibat baku serang udara yang menewaskan lebih dari 430 warga Iran dan melukai 3.500 lainnya.

Sementara itu, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke berbagai wilayah Israel, menewaskan sedikitnya 25 orang dan melukai ratusan warga sipil.

Sebagai respons atas serangan AS, Iran juga menembakkan 19 rudal ke arah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, salah satu pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah.

Mayor Jenderal Qatar, Shayeq Al Hajri, menyebut satu rudal berhasil menghantam fasilitas militer, meski tidak menyebabkan korban jiwa.

“Tujuh rudal pertama berhasil dicegat. Namun dari 12 rudal lanjutan, satu berhasil lolos dan mengenai pangkalan,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Donald Trump justru menyebut hanya 14 rudal yang ditembakkan dan semuanya berhasil dicegat, menyiratkan perbedaan narasi antara militer AS dan sekutunya.

PBB Peringatkan Dunia

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam sidang darurat DK PBB, menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah telah memasuki fase "titik belok berbahaya", yang membutuhkan tindakan cepat dan tegas dari komunitas internasional.

“Kita harus segera menghentikan pertempuran dan membuka kembali jalur diplomasi terkait program nuklir Iran,” seru Guterres di hadapan anggota dewan.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, juga mengkritik keras AS dan membandingkan kondisi saat ini dengan invasi Irak tahun 2003.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved