Iran Vs Israel

Iran Vs Israel Terkini, Kepala IAEA Rafael Grossi Dilarang Masuk Teheran

Kebijakan larangan kepala IAEA itu masuk Teheran dinilai sebagai tanggapan atas resolusi terbaru badan tersebut

Tayang:
Editor: Kamri
TRIBUNNEWS
IRAN VS ISRAEL - Data jumlah korban dan kerusakan akibat perang Iran vs Israel selama 12 hari. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menggambarkan perang 12 hari itu merupakan momen bersejarah dalam perjuangan revolusioner Iran. 

Namun, Iran menolak segala bentuk gencatan senjata yang dinegosiasikan atau pengaturan timbal balik.

"Iran tidak pernah terlibat dalam perundingan apa pun terkait gencatan senjata," tegas Araghchi dikutip dari Tehran Times.

 "Gencatan senjata menyiratkan kesepakatan dan negosiasi bersama.

Yang terjadi adalah penghentian agresi secara sepihak oleh musuh setelah menyadari biaya yang harus dikeluarkan untuk melanjutkan perang."

"Kami tidak menerima konsep gencatan senjata jika itu menyiratkan negosiasi atau kompromi," ujar Araghchi.

"Tidak ada negosiasi. Pihak penyerang terpaksa berhenti setelah tanggapan kami mengubah keseimbangan."

"Namun Iran bukanlah Lebanon," ia memperingatkan.

“Setiap pelanggaran terhadap ketenangan saat ini akan ditanggapi dengan respons langsung dan tegas," jelasnya.

Iran Hormati Tetangga Arab

Sementara itu, menanggapi serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Qatar, Araghchi mengklarifikasi bahwa serangan itu ditujukan hanya ke Amerika Serikat.

"Saya sudah memberi tahu tetangga Arab kami sebelumnya bahwa jika AS menyerang kami, kami tidak punya pilihan selain menanggapi—dan tanggapan itu mungkin menargetkan infrastruktur militer AS yang berbasis di negara Anda," jelas Araghchi.

Baca juga: Kondisi Terkini Iran Vs Israel, Kantong Israel Jebol, Netanyahu Dituntut Ganti Rugi

Menurutnya, Iran tidak berniat menargetkan negara Arab mana pun dan bahwa pesan ini disampaikan langsung kepada keenam menteri luar negeri PGCC.

“Kebijakan kami tetap pada hubungan bertetangga yang damai dengan semua negara di Teluk Persia, Irak, dan sekitarnya,” jelas Araghchi.

'Iran menunjukkan perlawanan terhadap koalisi kekuatan global'

Araghchi menggambarkan perang 12 hari itu merupakan momen bersejarah dalam perjuangan revolusioner Iran.

Menurutnya, hal itu menandai “perlawanan terhadap koalisi kekuatan global.”

“Iran diserang oleh dua negara bersenjata nuklir—AS dan Israel—dengan dukungan politik dan logistik dari pemerintah Eropa,” ujarnya.

“Tujuan mereka adalah untuk mematahkan tekad Iran dan memaksa Iran menyerah setelah puluhan tahun perlawanan. Mereka gagal.”

(Tribunnews.com)

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved