Perang Thailand vs Kamboja

Update Perang Thailand vs Kamboja, Thaksin Menuduh Hun Sen Memerintahkan Serangan Pertama

Serangan mendadak Kamboja menewaskan 9 warga sipil Thailand, termasuk anak-anak. Saat ini ketegangan meningkat di perbatasan.

Editor: Teddy Malaka
Al Jazeera/Angkatan Darat Thailand
PERANG KAMBOJA-THAILAND - Penampakan di SPBU kawasan Ban Phue, Thailand, pada hari Kamis, 24 Juli 2025, setelah Kamboja melancarkan serangan.  

POSBELITUNG.CO - Serangan mendadak Kamboja menewaskan 9 warga sipil Thailand, termasuk anak-anak. Saat ini ketegangan meningkat di perbatasan.

Serangan mendadak dari militer Kamboja di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja pada Kamis pagi (24 Juli 2025) menyisakan duka mendalam. 

Sebanyak 9 warga sipil Thailand tewas dan 14 lainnya luka-luka, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun.

Ledakan roket BM-21 yang ditembakkan dari arah Kamboja menyasar berbagai lokasi sipil, mulai dari SPBU di Ban Phue, Si Sa Ket, hingga rumah warga di Ubon Ratchathani, Surin, dan Buri Ram.

“Anak saya hanya ingin membeli air di SPBU, lalu ledakan itu datang,” ujar Boonluam Thongwiset, salah satu korban yang selamat, meski rumahnya di Tambon Dome Pradit hancur total.

Tanggapan Militer dan Kecaman Keras

Mengutip bangkokpost.com, Kolonel Richa Suksuvanond, Wakil Juru Bicara Tentara Kerajaan Thailand (RTA), menyatakan bahwa pihak militer mengecam keras tindakan Kamboja yang menyasar warga sipil. 

“Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk membela kedaulatan dan melindungi rakyat Thailand,” ujarnya.

Di tengah kepanikan dan kemarahan publik, mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra menyampaikan pernyataan keras di platform X (sebelumnya Twitter), menuding Presiden Senat Kamboja Hun Sen sebagai dalang di balik serangan lintas perbatasan itu.

“Thailand telah menunjukkan kesabaran. Tapi serangan ini, termasuk pemasangan ranjau di perbatasan, adalah pelanggaran hukum internasional,” tegas Thaksin.

Ia menyerukan agar pasukan Thailand kini diberi wewenang untuk respon taktis yang sah, termasuk opsi pembalasan terbatas.

Di sisi lain, Hun Sen dalam pernyataan di Facebook membela tindakan pasukannya dengan mengatakan bahwa "Tentara Kamboja tidak punya pilihan selain melawan."

Ia juga mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian beras dalam kepanikan.

Ketegangan memuncak di perbatasan, dengan lebih dari 86 desa dan 40.000 warga terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari rentetan serangan yang memicu kekhawatiran akan konflik berskala besar.

Mengapa Kamboja menyerang? Versi resmi menyebutkan bentrokan di sekitar situs bersejarah Prasat Ta Muen Thom. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved