Berita Bangka Belitung

Fenomena Perang Sarung di Bangka Belitung Menular ke Pelajar SD dan SMP

Fenomena perang sarung di Bangka Belitung yang dilakukan para remaja pada bulan Ramadhan 2024 ini menjadi sorotan serius sejumlah pihak.

Editor: Kamri
Kolase Tribun Style/Tribun Jakarta
Ilustrasi perang sarung. Fenomena perang sarung di Bangka Belitung yang dilakukan para remaja pada bulan Ramadhan 2024 ini menjadi sorotan serius sejumlah pihak. 

POSBELITUNG.CO - Fenomena perang sarung di Bangka Belitung yang dilakukan para remaja pada bulan Ramadhan 2024 ini menjadi sorotan serius sejumlah pihak.

Perang sarung di kalangan remaja ini tidak lagi bersifat sebagai permainan semata.

Kini perang sarung sudah menjurus ke arah kekerasan hingga menimbukan tawuran.

Menindaklanjuti keresahan tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Bangka Belitung, Azami Anwar mengatakan Dinas Pendidikan Bangka Belitung telah menggelar rapat awal untuk membahas berbagai peristiwa perang yang telah terjadi.

"Jadi kita sudah lakukan rapat koordinasi awal terkait ini, kita mengajak Polres, Unit PPA, Satpol PP, dan DP3ACSKB provinsi.

Di situ kita membahas berbagai persoalan yang terjadi terkait perang sahur," kata Azami kepada bangkapos.com, Kamis (28/3/2024).

Dalam rapat tersebut, Azami mengatakan para pelaku yang melakukan perang sarung tidak lagi didominasi oleh pelajar SMA.

"Jadi dalam rapat tersebut, pihak kepolisian mengatakan, para anak SMA ini sudah cenderung tidak lagi seperti itu.

Karena pihak kepolisian juga sudah melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah," ucapnya.

Baca juga: Hendak Perang Sarung saat Malam Ramadhan, 8 Remaja Bangka Belitung Ini diringkus, 3 Motor Disita

Sosialisasi yang dimaksudkan dengan memberi peringatan.

Apabila para remaja tersebut masih melakukan tindakan tersebut, maka pihak kepolisian tidak segan-segan untuk tidak mengeluarkan SKCK bagi mereka setelah lulus.

Akan tetapi, kata Azami, fenomena tersebut justru turun atau menular kepada pelajar yang berada di bangku SD dan SMP.

"Namun sepertinya tindakan tersebut lari ke anak SMP dan SD.

Terkait data pastinya memang tidak disampaikan, tetapi indikasinya kuatnya begitu.

Ini yang kita sayangkan, rupanya masih saja terus berlanjut," ungkapnya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved