Timah

Harga Timah Meroket di Awal 2026, Bertahan di Posisi Rp700 Juta per Ton

Harga timah dunia langsung tancap gas pada awal tahun 2026. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME)

Tayang:
Editor: Teddy Malaka
Ist
TIMAH BALOK merupakan satu di antara produksi PT Timah Tbk. 

POSBELITUNG.CO - Harga timah dunia langsung tancap gas pada awal tahun 2026. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga timah spot pada pekan perdana Januari 2026 tercatat di level US$42.050 per metrik ton, sementara kontrak tiga bulan berada di posisi US$42.000 per metrik ton.

Jika dirupiahkan, harga per metrik ton timah balok untuk perdagangan spot mencapai Rp704.098.000.

Lonjakan harga ini semakin menguatkan sentimen positif pasar, seiring berlanjutnya persoalan pasokan global di tengah permintaan yang tetap solid, khususnya dari sektor teknologi dan semikonduktor.

Dalam laporan pasar terbarunya, Fitch Solutions melalui unit BMI telah menaikkan proyeksi harga timah global untuk tahun 2026 menjadi US$35.000 per ton, dari perkiraan sebelumnya US$32.000 per ton.

Kenaikan proyeksi ini mencerminkan ketatnya pasokan timah dunia yang belum menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Ringkasan Berita:
  • Harga timah LME awal 2026 melonjak di atas US$42.000 per ton didorong pasokan ketat global
  • Fitch Solutions menaikkan proyeksi harga timah 2026 seiring permintaan kuat industri semikonduktor global terus meningkat
  • Indonesia dan Myanmar masih menjadi faktor kunci gangguan pasokan timah dunia berkelanjutan hingga awal tahun
  • Kenaikan harga timah menguatkan prospek saham TINS dengan target analis hingga Rp5.000 pada tahun mendatang

Pasokan Timah Global Masih Tertekan

Pasokan timah global masih sangat bergantung pada Indonesia, sebagai eksportir terbesar dunia.

Namun, produksi dan ekspor timah Tanah Air terganggu akibat keterlambatan persetujuan izin kerja tahunan. 

Kebijakan pemerintah yang kerap memperketat aturan produksi dan ekspor juga berulang kali memicu gangguan pasokan ke pasar global.

Selain Indonesia, rantai pasok timah dunia juga sangat bergantung pada Wilayah Wa di Myanmar.

Pada Juli lalu, International Tin Association mengumumkan bahwa pengiriman timah dari wilayah tersebut diperkirakan akan kembali berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Hal ini menyusul kabar bahwa sejumlah operator di tambang Man Maw, tambang timah utama di wilayah itu, telah mengantongi izin penambangan selama tiga tahun sebagai bagian dari proses pembukaan kembali secara bertahap.

Namun hingga laporan BMI dirilis pada akhir November, realisasi pengiriman tersebut belum juga terlihat.

Karena itu, analis Fitch memilih pendekatan “wait and see”, mengingat kabar dimulainya kembali aktivitas tambang di Wilayah Wa telah berulang kali beredar tanpa realisasi nyata.

Secara historis, Myanmar merupakan produsen timah terbesar ketiga di dunia. Berdasarkan data US Geological Survey (USGS), Myanmar diperkirakan memiliki cadangan timah sekitar 700.000 ton atau setara 15 persen cadangan global, setelah China dan Indonesia yang masing-masing memiliki cadangan sekitar 800.000 ton dan 720.000 ton.

Permintaan Semikonduktor dan EV Dorong Harga

BMI menilai harga timah akan tetap bertahan tinggi. Produksi peleburan timah di China masih tertekan akibat keterbatasan pasokan konsentrat, sementara permintaan terus menguat seiring pulihnya aktivitas ekonomi global dan meredanya ketegangan perdagangan.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved