Pengalaman Tio Mengikuti Mudik Gratis 2026, Rela Tempuh Perjalanan Belasan Jam Demi Ibunda

Tio Ilham Wahyudi (22), seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Tayang:
Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha
Tio Ilham Wahyudi (22), mahasiswa UPI Bandung, saat mengisahkan pengalamannya mudik menggunakan kapal perang KRI Semarang setibanya di Terminal Manggar, Belitung Timur, Selasa (17/3/2026) malam. Sempat berencana tidak pulang, Tio akhirnya bisa kembali ke kampung halaman untuk menuntaskan kerinduan memeluk ibundanya berkat program mudik gratis kolaborasi TNI AL dan Pemprov Babel. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Jarum jam menunujukkan angka 22.30 WIB di Terminal Manggar, Rabu (18/3/2026). Udara malam menyelimuti suasana di selasar terminal tersebut. 

Heningnya malam itu tergantikan oleh percakapan para penjemput yang sesekali bangkit dari duduknya, sekadar meregangkan kaki yang mulai kaku akibat penantian panjang.

Tak berselang lama, sorot lampu dari kejauhan menyinari kegelapan aspal jalan raya. Suara mesin bus terdengar mendekat. Suasana terminal pun menjadi semakin hidup. 

Adapun beberapa penjemput yang tadinya duduk di atas kendaraan bermotor mereka, kini berdiri tegak.

Bus tersebut akhirnya memasuki pelataran terminal. Mesinnya menderu pelan sebelum akhirnya berhenti sempurna. 

Pintu bus pun terbuka. Di antara sekian banyak penumpang yang turun, tampak seorang pemuda menyandang ransel beserta sebuah koper yang ia jinjing dengan hati-hati.

Ia adalah Tio Ilham Wahyudi (22), seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Tio membawa tas berisi pakaian pribadi dan beberapa kantong oleh-oleh khas Bandung yang ia siapkan khusus untuk kedua orang tuanya di rumah.

Langkah Tio seketika terhenti saat matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal di antara kerumunan. Di sana, sang ayah sudah berdiri menanti. 

Tio langsung mendekat dan menyalami tangan sang ayah, sebuah gestur penghormatan khas anak rantau yang akhirnya kembali ke rumah. Tas yang tadi ia jinjing seolah tak lagi terasa bebannya saat melihat senyum di wajah sang ayah.

"Kangen banget Bang, kangen keluarga. Ada Bapak sama Ibu di rumah," ujar Tio.

Tio menceritakan bahwa kepulangannya ke Manggar, Belitung Timur hampir saja tidak jadi terlaksana di tahun 2026 ini. Ia awalnya berpikir untuk tetap bertahan di Bandung dan melewatkan momen Idul Fitri jauh dari keluarga.

"Sebenarnya kemarin emang rencana nggak pulang. Tapi karena ada mudik gratis ini, jadi balik," ucapnya.

Kalimat itu menggambarkan betapa besarnya arti program mudik gratis bagi seorang mahasiswa perantau seperti dirinya. Tanpa bantuan ini, rindu Tio mungkin hanya akan tersampaikan lewat layar ponsel.

Perjalanan Tio kali ini pun menyimpan cerita unik yang tak akan ia lupakan seumur hidup. Jika biasanya ia mudik menggunakan kapal feri penumpang komersial, tahun ini ia merasakan sensasi berbeda, yaitu menumpang kapal perang milik TNI Angkatan Laut, KRI Semarang.

Di atas dek kapal perang tersebut Tio menghabiskan waktu berjam-jam mengarungi Laut Jawa menuju Pulau Belitung. Total waktu perjalanan yang ia habiskan mencapai belasan jam, mulai dari titik awal di Bandung, hingga akhirnya menempuh jalur darat lintas kabupaten demi bisa sampai ke Manggar.

Tio juga menceritakan bagaimana rasanya bertukar sapa dan mengobrol langsung dengan para prajurit TNI AL selama di perjalanan. Sebuah pengalaman berharga yang ia dapatkan secara cuma-cuma lewat program ini.

"Banyak sih pengalaman uniknya. Ketemu TNI, banyak ngobrol sama TNI langsung di atas kapal perang. Rasanya beda banget sama mudik-mudik sebelumnya," ungkapnya.

Setibanya di terminal, Tio dan rombongan pemudik lainnya juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan posko pengamanan terminal. Dalam satu bingkai foto itu, terpancar wajah-wajah lelah namun penuh kepuasan.

Namun, di balik semua keceriaan itu pikiran Tio sudah jauh ke pintu rumahnya. Ada satu hal yang ingin ia tuntaskan malam ini juga. Sebuah tindakan yang sudah ia idam-idamkan selama menahan rindu di Bandung.

"Hal pertama yang bakal saya lakuin pas sampai di rumah? Langsung peluk orang tua. Langsung peluk Mamah lah, peluk Emak. Kangen berat," ujarnya.

Tio juga tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menyebut nama-nama seperti Pemerintah Provinsi, TNI, Pemerintah Kabupaten, IKM Babel, PT Timah, hingga Bank Sumsel Babel yang telah mewujudkan mimpinya untuk pulang. 

Terakhir, Tio berharap di tahun-tahun mendatang jumlah kursi mudik gratis bisa lebih banyak lagi agar tak ada lagi mahasiswa seperti dirinya yang harus menahan rindu terlalu lama.

Tio akhirnya meninggalkan Terminal Manggar malam itu. Ia masuk ke dalam mobil bersama ayahnya, membawa koper dan ranselnya yang penuh cerita. 

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved