Waspada Kemarau Kering 2026, BMKG Tegaskan Bukan Godzilla El Nino
BMKG mengklarifikasi bahwa Indonesia akan menghadapi fase kemarau yang lebih panjang dan kering mulai kuartal kedua 2026.
Penulis: Evan Saputra | Editor: Evan Saputra
POSBELITUNG.CO - Menanggapi isu liar terkait potensi kemarau ekstrem, BMKG mengklarifikasi bahwa Indonesia akan menghadapi fase kemarau yang lebih panjang dan kering mulai kuartal kedua 2026.
Walau membantah label "Godzilla El Nino", pemerintah lintas sektoral mulai dari Kementerian Kesehatan hingga Kementerian PUPR tetap menyiagakan langkah mitigasi guna mengantisipasi penurunan kualitas udara, risiko penyakit menular, serta ancaman gagal panen akibat berkurangnya curah hujan.
Dalam penjelasannya, BMKG menegaskan musim kemarau 2026 memang diprediksi lebih kering dari normal, tetapi tidak sampai pada level ekstrem seperti yang ramai dibicarakan.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan istilah “Godzilla” tidak digunakan dalam kajian resmi BMKG karena dinilai tidak akurat dan cenderung berlebihan.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Rabu 15 April 2026 Naik
Ia menekankan kondisi 2026 tetap perlu diwaspadai, namun tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
"Perlu digarisbawahi bahwa ini berarti lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau paling parah dalam 30 tahun,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (14/4/2026), dikutip dari Antara.
Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal, yakni sekitar April hingga September 2026, dan berlangsung lebih panjang.
Curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berada di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun.
Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan mulai berkembang pada akhir April hingga awal Mei 2026.
Meski demikian, BMKG menegaskan El Nino bukan penyebab kemarau, melainkan hanya faktor yang memperkuat intensitasnya.
Indonesia sebagai negara tropis, kata Fachri, secara alami mengalami musim kemarau setiap tahun.
Namun, ketika kemarau bertepatan dengan El Nino, curah hujan cenderung menurun, sehingga risiko kekeringan meningkat. Saat ini, El Nino masih berada pada kategori lemah.
BMKG memperkirakan intensitasnya berpotensi meningkat menjadi moderat pada kuartal ketiga 2026, terutama pada periode Agustus hingga Oktober.
Meski tidak seekstrem 1997 atau 2015, dampak kemarau kering tetap perlu diantisipasi.
Penurunan curah hujan berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu sektor pertanian dan perkebunan.
| Prediksi Cuaca 14-20 April 2026, Awan Cumulonimbus Meluas, Waspadai Hujan Petir |
|
|---|
| Daftar Nama-Nama Kajati yang dimutasi oleh Jaksa Agung ST Burhanudin |
|
|---|
| Amerika Blokade Penuh Selat Hormuz, Pasukan AS Berisiko Terjebak |
|
|---|
| Sosok Riono Budisantoso, Kajati Babel Baru Ditunjuk Jaksa Agung: Profil, Pendidikan, Jejak Karier |
|
|---|
| Video: Negosiasi AS-Iran Deadlock! Tim Trump Tinggalkan Pakistan, Negosiator Klaim Beda Keterangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20231023-Info-Cuaca-BMKG-Ramalan-Hujan-di-Bangka-Belitung.jpg)