Prabowo Tanggapi Isu Rupiah Melemah: Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar Kok

Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut saat menekankan pentingnya melihat kekuatan ekonomi Indonesia

Tayang:
Penulis: Vigestha Repit Dwi Yarda | Editor: Rusaidah
BPMI Setpres
RAMPASAN SATGAS PKH - Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri penyerahan hasil penyelamatan keuangan negara dan penagihan denda administratif oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), di Jakarta pada hari ini, Rabu (24/12/2025). Total kerugian negara yang bisa dikumpulkan oleh Satgas PKH yakni senilai Rp Rp 6.625.294.190.469,74. Presiden Prabowo menyebut, uang Rp 6 triliun hasil sitaan Satgas PKH bisa digunakan untuk membangun hunian tetap bagi 100 ribu korban bencana Sumatra. 

POS BELITUNG -- Presiden Prabowo Subianto angkat bicara mengenai berbagai kekhawatiran publik terkait kondisi ekonomi Indonesia, termasuk isu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dalam pidatonya saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menilai ada pihak-pihak yang terlalu sering menggambarkan Indonesia berada dalam situasi krisis.

Di depan para undangan dan masyarakat yang hadir, kepala negara mempertanyakan pandangan pesimistis yang kerap muncul mengenai kondisi ekonomi nasional.

Baca juga: Catat, BPOM Tarik 11 Kosmetik Berbahaya dari Peredaran, Sampo Anti Ketombe Populer Ikut Disorot

Menurut Prabowo, kondisi nyata di lapangan tidak seburuk yang selama ini digambarkan.

“Sekarang ada yang selalu, entah apa saya enggak mengerti ya. Sebentar-sebentar Indonesia akan collaps, akan keos, akan apa ya kan? Rupiah begini, rupiah begitu apa? dolar begini, dolar. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok. Iya kan?” ujar Prabowo.

Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut saat menekankan pentingnya melihat kekuatan ekonomi Indonesia secara lebih luas dan tidak hanya berfokus pada pergerakan kurs mata uang.

Ia menilai kehidupan masyarakat, khususnya di pedesaan, lebih dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta akses energi dibanding dinamika pasar keuangan internasional.

Presiden juga menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi nasional hingga kini masih relatif aman dan terkendali.

Menurutnya, di tengah tekanan ekonomi global dan konflik geopolitik yang terjadi di berbagai negara, Indonesia masih berada dalam posisi yang cukup stabil.

“Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian. Fluktuasi nilai tukar, kenaikan harga energi global, hingga ketegangan geopolitik internasional masih memberikan tekanan terhadap banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski begitu, pemerintah terus menyampaikan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat.

Sejumlah indikator seperti konsumsi domestik, cadangan devisa, serta ketahanan pangan disebut masih menjadi penopang utama stabilitas ekonomi Indonesia.

Pidato Prabowo di Nganjuk juga dinilai sebagai upaya pemerintah membangun optimisme masyarakat di tengah berbagai sentimen negatif terkait kondisi ekonomi.

Dengan gaya bicara yang lugas, Prabowo menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak dapat diukur semata-mata dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, yang lebih penting adalah kemampuan negara menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dan memastikan stabilitas nasional terus terjaga.

(Pos Belitung/Wartakota/Tribunnnews)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved