Demonstrasi di Berbagai Wilayah RI

VIDEO: Ternyata Warga Akses Info Demo via Portal Berita Online, Dibanding Facebook

Gelombang demonstrasi besar yang berlangsung di berbagai daerah Indonesia sejak Agustus 2025 menimbulkan arus informasi yang deras di dunia digital.

Penulis: Ilham Pratama | Editor: Alza

POSBELITUNG.CO - Gelombang demonstrasi besar yang berlangsung di berbagai daerah Indonesia sejak Agustus 2025 menimbulkan arus informasi yang deras di dunia digital.

Aksi protes dipicu kebijakan kenaikan tunjangan DPR RI, diperparah tragedi meninggalnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang terlindas kendaraan taktis Brimob saat aksi di Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).

Di tengah derasnya informasi, mayoritas masyarakat masih mempercayai portal berita online sebagai sumber utama dibandingkan media sosial.

Survei Monash Data & Democracy Research Hub yang dikutip Tribunnews menunjukkan 69 persen responden mengakses informasi demo lewat situs berita online.

Sementara itu, hanya 14 persen yang memilih Reddit, 6 persen Instagram, 4 persen Facebook, 4 persen YouTube, dan 3 persen Bluesky.

Temuan ini menegaskan bahwa media arus utama masih menjadi rujukan publik, meskipun percakapan di platform digital semakin ramai.

Monash juga mencatat tren diskusi daring setelah aksi, terutama pasca tewasnya Affan, di mana warganet membahas perusakan fasilitas umum hingga tuntutan 17+8 Tuntutan Rakyat dari 211 organisasi sipil, mahasiswa, buruh, dan PSHK.

Namun, intensitas percakapan menurun drastis.

Jika pekan sebelumnya tercatat 11 juta unggahan, pekan berikutnya hanya ratusan ribu, dengan pergeseran emosi publik dari marah dan takut menuju harapan.

Di sisi lain, Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) menemukan maraknya hoaks yang memperkeruh suasana.

Contohnya, video kerusuhan Baghdad yang diklaim terjadi di Jakarta, hingga kabar palsu soal penjarahan di DPR dan Mall Atrium Senen.

Bahkan, muncul konten manipulasi berbasis kecerdasan buatan seperti deepfake.

Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho atau Zek, menyebut hoaks menimbulkan kebingungan, amarah, dan mendorong aksi kekerasan.

Dalam kondisi ini, peran jurnalis dinilai sangat vital.

Jurnalis bukan sekadar penyampai peristiwa, melainkan penjaga kebenaran di tengah banjir disinformasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved