Video

Video: Iran Tembak Drone AS MQ-9 Reaper, Pakai Pendeteksi Siluman, Arash-e Kamangir Sang Pemanah

Iran mengklaim berhasil menjatuhkan drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat (AS) menggunakan sistem pertahanan udara baru.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rusaidah | Editor: Rusaidah

POSBELITUNG.CO – Iran mengklaim berhasil menjatuhkan drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat (AS) menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash-e Kamangir di dekat Selat Hormuz.

Dilansir Al Jazeera, insiden itu disebut menjadi penggunaan tempur pertama sistem pertahanan udara lokal Iran tersebut sejak diperkenalkan.

Media Iran menyebut drone pengintai milik AS itu ditembak jatuh di sekitar Pulau Qeshm, kawasan strategis yang berada di jalur pelayaran Selat Hormuz.

Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meski pembicaraan gencatan senjata masih berlangsung.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, mengatakan Arash-e Kamangir digunakan untuk mencegat “target musuh” di wilayah udara sensitif Iran.

Iran menggambarkan sistem tersebut memiliki kemampuan deteksi siluman, meski belum banyak detail teknis yang dipublikasikan ke publik.

Nama Arash-e Kamangir diambil dari tokoh legenda Persia “Arash sang pemanah” yang dikenal dalam cerita rakyat Iran sebagai simbol pertahanan wilayah dari ancaman asing.

Hingga kini belum ada verifikasi independen terkait klaim penembakan drone tersebut.

Sejumlah analis mengatakan Iran memang masih memiliki sistem pertahanan udara bergerak yang dirancang untuk menghadapi drone dan pesawat pengintai.

Klaim Iran itu langsung menarik perhatian karena MQ-9 Reaper merupakan salah satu drone paling penting milik militer Amerika Serikat.

Drone buatan General Atomics tersebut selama ini digunakan untuk misi pengawasan, pengintaian, hingga serangan presisi di berbagai kawasan konflik Timur Tengah.

MQ-9 Reaper dikenal mampu terbang dalam durasi panjang dengan membawa sensor pengintai canggih dan persenjataan rudal berpemandu.

Karena perannya yang vital, kehilangan drone jenis ini di wilayah sensitif seperti Selat Hormuz dinilai memiliki dampak strategis tersendiri.

Mark Hilborne dari King’s College London mengatakan Iran dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan sistem pertahanan udara yang lebih murah dan fleksibel dibanding jaringan pertahanan konvensional.

Menurutnya, pendekatan itu membuat Iran tetap mampu menciptakan ancaman meski sebagian fasilitas pertahanan udara utamanya mengalami kerusakan akibat serangan Israel dan AS.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved