OJK Heran D4F Tak Ada Izinya, Malah Marak di Babel

Bisnis D4F masih dipelajari tim satgas waspada investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sampai saat ini OJK belum mengeluarkan izin bisnis tersebut

Editor: Rusmiadi
kompas.com
Lambang Otoritas Jasa Keuangan 

POSBELITUNG.COM, PANGKALPINANG - Kepala Kantor Regional VII Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lukdir Gultom terkejut mendengar bisnis Dream For Freedom (D4F) marak di Bangka Belitung (Babel).

Dia menegaskan, pihaknya tidak ada mengeluarkan izin untuk bisnis tersebut. Meski begitu, Lukdir menyebut OJK belum bisa berbuat banyak untuk menyikapinya.

Dia hanya segera menjadwalkan sosialisasi tentang produk-produk keuangan industri jasa keuangan di Babel pada pekan depan.

"Saya baru tahu bahwa bisnis D4F juga marak di Provinsi Kepulauan Babel. Mungkin dalam minggu depan, kami akan menjadwalkan sosialisasi tentang produk-produk keuangan industri jasa keuangan. Hal itu dahulu yang dapat kami lakukan segera," kata Lukdir menjawab Bangka Pos, Jumat (22/1) malam.

Lukdir menambahkan saat ini bisnis D4F masih dipelajari tim satgas waspada investasi. Sayang dia belum tahu perkembangan penanganan bisnis itu.

"Mengenai perkembangan penanganan oleh tim satgas waspada investasi masih dilakukan, dan saa ini kami akan cari tahu dahulu perkembangan pada objeknya yaitu bisnis yang sedang marak ini," ujarnya.
Seperti diberitakan, Babel juga termasuk daerah yang terkena 'demam' D4F.

Bisnis ini makin hangat diperbincangkan usai penyataan Ketua MUI Pusat, DR KH Ma'ruf Amin yang mengimbau masyarakat Babel berhati-hati terhadap penawaran bisnis yang berpotensi mengarah ke money game.

Dalam imbauan itu dia menyinggung D4F sebagai contohnya. Rahman, anggota pertama Komunitas Nesia D4F di Babel, mengatakan D4F merupakan sebuah sistem yang dikembangkan dalam Komunitas Nesia. Saat ini, katanya, ada sekitar 20 ribu warga Babel yang sudah bergabung.

Rahman menyebut Komunitas Nesia D4F hadir di Babel pada 7 Februari 2015. Kala itu Rahman didatangi owner Nesia dan seorang mantan muridnya.

"Waktu itu diingatkan bahwa bisnis ini bukan hanya cari uang, tetapi perubahan hidup. Yang secara offline yaitu pengembangan massa dan secara online mempunyai unit link seperti promonesia.com," kata Rahman saat ditemui Bangka Pos, Jumat (22/1).

Rahman menegaskan tidak ada yang ditutup-tutupi dalam D4F. Dengan anggota yang ada saat ini, dia menyebut uang yang masuk ke D4F mencapai di atas Rp 130 miliar.

"Untuk pertumbuhan setiap hari di provinsi kita total omzetnya rata-rata Rp 1 miliar," ujar pria yang juga berstatus sebagai pengajar SMK tersebut.

"Boleh diperiksa saya senin tetap mengajar, saya Sabtu-Minggu baru berbisnis. Bisnis ini juga kerja, yaitu merubah pikiran dari bisnis di dunia nyata menjadi bentuk digital, jika mendengar ada yang rugi itu berarti dia tidak disiplin seperti mentransfer tidak pada waktunya, dan memang belum ada yang ngomong rugi sampai saat ini, uang member tidak dipakai bisnis lain, itu yang perlu diketahui," kata Rahman yang juga memastikan pertumbuhan bisnis D4F akan tetap berlanjut.

"Tanggapan dari pihak yang memandang miring itu kami hanya tersenyum, marilah kita duduk bersama dan kami jelaskan konsepnya, kami paham kondisi di luar sana bagaimana dengan pola pikir masing-masing, kami bukan organisasi asal-asalan," ujarnya.

Lebih lanjut, Rahman mengatakan D4F tidak ada kaitan dengan OJK. Pasalnya, Nesia dengan sistem D4F merupakan sebuah komunitas.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved