Demi Sarung Tangan, Wanita Cantik Ini Rela Hijrah dari Singapura ke Indonesia

Tak semua orang berani mempertaruhkan masa depan ketika mereka berada di zona nyaman. Apalagi ketika memiliki pekerjaan

Editor: Kamri
tribunjateng/m sofri kurniawan
TANIA HERMAWAN pengusaha sarung tangan 

POSBELITUNG.COM - Tak semua orang berani mempertaruhkan masa depan ketika mereka berada di zona nyaman. Apalagi ketika memiliki pekerjaan dan menempati posisi strategis.

Tetapi, ini tak berlaku bagi Tania Hermawan. Dara asal Semarang yang besar di Singapura ini rela meninggalkan pekerjaan demi menekuni dan mengembangkan usaha sarung tangan yang dikelola keluarga.

Tania merupakan pemilik perusahaan sarung tangan merek Zuna Sport. Ia merupakan generasi kedua dari keluarga Tanto yang fokus dalam usaha pembuatan sarung tangan.

Sulung dua bersaudara ini mengatakan, keinginan mengembangkan bisnis keluarga membuatnya tak hanya harus melepas pekerjaan tetapi juga hijrah dari Singapura ke Indonesia, tepatnya di Semarang.

Sejak sekolah menengah, Tania sudah hijrah ke Negeri Singa tersebut.

"Awal memutuskan kembali ke Indonesia, tentu berat. Apalagi, saya besar, punya teman dan pekerjaan yang strategis di Singapura. Tetapi, entah kenapa, saya punya passion yang besar, kembali dan menekuni bisnis yang sudah dijalankan orangtua. Meski sempat bimbang, dan orangtua meyakinkan, akhirnya saya beranikan diri pulang," kisahnya.

Zuna Sport merupakan perusahaan yang didirikan sang ayah. Sebelum membuat sarung tangan, perusahaan ini banyak mengerjakan aksesoris olahraga milik brand-brand besar, semisal Nike, Reebok, serta Asics.

"Dari pengalaman belasan tahun itu, kami berinisiatif membuat produk lokal tapi punya kualitas sama dengan brand-brand besar. Nama Zuna Sport diambil dari bahasa Afrika yang berarti berkelanjutan atau berkesinambungan," jelasnya.

Tania mengatakan, meski punya pengalaman yang mumpuni mengerjakan produk aksesoris olahraga dari brand-brand besar, tak mudah bagi perusahaan menjual produk menggunakan nama baru, bahkan yang memiliki embel-embel lokal.

Lulusan Bachelor of Arts, Fashion Marketing and Management ini mengatakan, tantangan ada pada pemasaran serta merevitalisasi dan memodernisasi perusahaan.

Ada hampir 1.600 karyawan yang saat ini di bawah kepemimpinannya. Dan, hampir sebagian besar masih berpola dan memiliki konsep kerja lama. Padahal, kondisi lingkungan saat ini membutuhkan sistem yang singkat, efektif dan cepat.

Tania secara bertahap melakukan revitalisasi agar bisa menyesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

"Sebagai anak muda dan besar di lingkungan yang dekat dengan teknologi, saya merasa perlu memberi sentuhan ketika akhirnya saya memegang tampuk perusahaan ini. Resistensi tentu ada dan itu wajar. Tetapi, saya berusaha pelan-pelan meyakinkan dan membenahi sistem yang ada lewat cara yang lebih ringkas dan efektif. Tentu, semua tetap saya konsultasikan ke orangtua sebagai yang empunya," tukasnya.

Dalam hal pemasaran, Tania lebih gencar memasarkan produk di pasar dalam negeri. Ia beranggapan, tren dan gaya hidup berolahraga mulai berkembang pesat dan ini menjadi peluang, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar.

Selain itu, Tania mengaku "terusik" dengan anggapan, produk lokal susah bersaing dengan brand atau produk yang sudah besar di luar negeri. Lewat produk Zuna Sport, dia ingin menepis anggapan itu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved