Waspada Mengkonsumsi Jamur, Antara Kelezatan dan Kematian. Begini Cara Memilihnya
Meski dekat dengan kehidupan sehari-hari, sampai kini racun jamur masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan
Namun, kalau punya waktu panjang dan mau sedikit repot, tips turun-temurun dari sejumlah desa di Nusantara ini layak dicoba.
Untuk memastikan ada tidaknya racun, kita masak atau pepes saja jamur yang dicurigai bersama nasi putih.
Jika warna nasi berubah menjadi cokelat, kuning, merah, atau hitam, besar kemungkinannya jamur itu beracun. Keruan, bukan cuma jamurnya yang harus dihindari, nasinya pun tak boleh disantap lagi.
Babi pelacak
Ada lagi? Tentu. Yang cukup menarik adalah cara yang biasa digunakan para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya).
Ketika musim berburu jamur tiba, para pemburu biasanya akan membawa binatang "pelacak jamur" andalan.
Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus. Konon, babi-babi pelacak itu dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak. Entah apakah trik itu bisa juga diterapkan (atau malah sudah dicoba) di Indonesia.
Yang pasti, para peneliti di sini biasanya bertanya pada penduduk setempat ketika menemukan sebuah jamur asing.
Penduduk sekitar mestinya tahu, jenis jamur itu beracun atau aman untuk dimakan.
Tips terakhir, jika tak punya referensi atau informasi cukup, pikirkan kembali niat untuk memasak atau mengonsumsi jamur liar.
Kita tidak ingin musibah keluarga Gould menimpa diri kita bukan?
Ramuan arang pengusir racun
Keracunan akibat mengonsumsi jamur mempunyai beberapa gejala. Keracunan karena muskarin misalnya, setelah 5 - 10 menit, si pemakan biasanya akan mengeluarkan air mata, peluh, atau ludah.
Gejala itu disambung dengan penyempitan pupil mata.
Berikutnya, dapat diikuti dengan sesak napas, sering buang air, pusing, lemah, pingsan, kejang-kejang, sampai akhirnya koma dan meninggal.
Jika disebabkan racun lainnya, 4 - 6 jam usai mengonsumsi jamurnya, si pemakan akan merasakan haus, sakit perut hebat, muntah-muntah, dan mencret (muntaber). Lama-kelamaan, korban akan mengalami shock, yang juga akan membawanya pada kematian.
Cara paling aman untuk keluar dari jeratan racun jamur liar ini tentu saja dengan meminta bantuan dokter. Dokter biasanya akan melakukan usaha simptomatik atau suportif, dengan memberikan thiosulfas natrikus.
Untuk penderita yang shock dapat diberi larutan garam fisiologis. Sedangkan pada penderita yang kondisinya gawat, dapat diberi suntikan 0,25 mg antropin.
Di beberapa daerah, sering juga digunakan obat penawar berupa ramuan alternatif. Ramuan itu terdiri atas dua bagian arang kayu (dapat diganti dengan bakaran roti atau beras sampai hangus), satu bagian garam inggris, dua bagian asam tannin (dapat diganti dengan teh kental).
Satu sendok ramuan di atas kemudian diseduh di dalam satu gelas air masak, lalu diminum.
Namun sekali lagi, mengunjungi dokter tetap jalan terbaik.(*).
Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Intisari.Grid.Id dengan judul : Jamur, Antara Kelezatan dan Kematian. Ini Caranya Agar Tak Sampai Salah Makan!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/jamur_20171103_224658.jpg)