Pengakuan Pengajar Ponpes Usai Sertu Hendri Tembak Anggota PM Belitung Serma Randi

Saat itu, Senin (13/1/2025) dini hari, pengajar Pondok Pesantren  Dhiya-Ul Quran Belitung mendengar suara tembakan.

Editor: Alza
Posbelitung.co/Dede Suhendar
Rombongan Kapolres Belitung, Dandim 0414 Belitung dan Danlanud H AS Hanandjoeddin berkumpul di sekitar lokasi persembunyian Sertu Hendri pada Selasa (14/1/2025). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Pengakuan pengajar Ponpes Dhiya-Ul Quran Belitung, tak lama pecatan TNI AD Hendri, menembak anggota Subdenpom Persiapan Belitung Serma Randi.

Pasalnya, Serma Randi ditolong oleh pengajar di ponpes tersebut.

Saat itu, Senin (13/1/2025) dini hari, pengajar Pondok Pesantren Dhiya-Ul Quran Belitung mendengar suara tembakan.

Selain itu juga sempat terdengar samar-samar suara orang kejar-kejaran sembari berteriak. 

Muhammad Nasirudin, kakak pengajar Ponpes Dhiya-Ul Quran, yang mendengar suara tembakan dan teriakan orang itu.

Ia kemudian menelepon adiknya, yakni Muhammad Nasirudin, yang tidur di kamar berbeda, untuk mengecek kejadian tersebut. 

"Katanya ada suara orang kejar-kejaran sama suara tembakan beberapa kali.

Ada juga yang teriak tolong," kata Muhammad kepada Posbelitung,co, Kamis (16/1/2025). 

Akhirnya Muhammad bersama abangnya memutuskan keluar rumah mengecek kejadian tersebut. 

Awalnya, mereka melihat korban tapi malah berlari ke arah semak-semak. 

Keduanya juga sempat ragu dan berunding sebelum memutuskan untuk mendatangi lokasi tersebut. 

"Beliau akhirnya menyerahkan diri, bilang Pak, Pak saya anggota PM, saya kena tembak," kata Muhammad menirukan kalimat korban. 

Setelah mendekat, terlihat Serma Randi sembari menahan sakit akibat luka tembak di punggung kiri. 

Selain itu, posisi tangan kiri masih terikat tali pinggang. 

"Kami sempat panggil pengurus tapi tidak bangun.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved