Penyelundupan Timah

Jejak Penyelundupan Timah di Pantai Sengkelik

Pantai ini bukan hanya tempat nelayan bersandar saat musim barat, tapi juga pernah menjadi arena latihan perang pasukan Marinir TNI AL.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Dede Suhendar | Editor: Teddy Malaka
Dede Suhendar
Pantai Sengkelik 

Laporan Ekslusif Wartawan Pos Belitung, Dede Suhendar

SIJUK, POS BELITUNG — Di ujung timur Desa Sijuk, tersembunyi sebuah pantai berpasir putih yang tenang, namun menyimpan banyak cerita, Pantai Sengkelik. Baru-baru ini, pantai ini mendadak jadi sorotan, karena menjadi pintu keluar timah Belitung.

Terletak sekitar 30 kilometer dari Tanjungpandan, ibu kota Kabupaten Belitung, pantai ini hanya bisa diakses lewat jalan tanah sejauh lima kilometer, melewati perkebunan sawit milik warga dan jalan sempit yang hanya cukup untuk satu mobil.

Suasana sunyi dan keindahan alam Pantai Sengkelik yang memukau seolah menjadi selimut bagi berbagai kisah yang bersemayam di balik ombak tenangnya.

Pantai ini bukan hanya tempat nelayan bersandar saat musim barat, tapi juga pernah menjadi arena latihan perang pasukan Marinir TNI AL.

Bahkan, baru-baru ini, kawasan ini mendadak jadi sorotan karena menjadi lokasi penggerebekan penyelundupan pasir timah hampir 5 ton. Perjalanan menuju Pantai Sengkelik bukan tanpa tantangan.

Tim Pos Belitung harus melalui jalan kebun warga yang tidak beraspal sejauh lima kilometer. Di beberapa titik, jalan bercabang dan dipasang portal dari kayu, menambah kesan misterius.

Lokasi penyelundupan timah di Pantai Sengkelik
Lokasi penyelundupan timah di Pantai Sengkelik

Di sepanjang perjalanan, hanya terlihat beberapa warga yang lalu-lalang menggunakan motor. Namun ketika ditanya soal penyelundupan, kebanyakan mengaku tidak tahu-menahu.

“Kami memang tidak tahu, dapat informasi itu juga dari berita media online,” ujar Kepala Desa Sijuk, Nasri.

Deru alat tambang terdengar samar berpadu dengan suara angin pantai. Sesampainya di lokasi, hanya tersisa sisa-sisa aktivitas, ban bekas bertumpuk, potongan pohon kelapa, dan jejak sampah yang belum lama dibakar.

Tak jauh dari situ, Sungai Sengkelik mengalir tenang, menjadi tempat bersandar boat nelayan. Informasi yang diperoleh Pos Belitung, saat penggerebekan terjadi, para penyelundup berhamburan ke hutan bakau di sekitar sungai.

Pantai Sengkelik tak memiliki dermaga permanen. Hanya jembatan kayu yang dibangun oleh Pemerintah Desa Sijuk tahun lalu sebagai penghubung antara Pantai Sengkelik, Pantai Siantu, dan Pantai Batu Besi. 

Menurut Kepala Desa Nasri, jembatan itu sangat membantu nelayan mengakses area-area pantai yang dipisahkan oleh Sungai Sengkelik.

"Iya benar, dulu sempat jadi lokasi latihan perang di Pantai Sengkelik itu," kata Nasri mengingat latihan lanjutan pasukan Marinir TNI AL pada Agustus 2024 lalu.

Menurutnya, ban bekas yang terlihat di pantai digunakan oleh nelayan untuk membuat rompong, semacam alat bantu penangkapan ikan di laut.

Letaknya yang cukup tersembunyi dan air pantai yang dalam membuat Sengkelik jadi lokasi strategis, bukan hanya untuk latihan militer, tapi juga untuk aktivitas ilegal.

Hal itu terbukti dari penggerebekan tim gabungan dari Ditkrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung dan Satreskrim Polres Belitung pada Rabu (23/7), yang berhasil menggagalkan penyelundupan timah hampir lima ton di wilayah Pantai Sengkelik, Dusun Piak Aik.

Namun Nasri menegaskan, pihak desa sama sekali tidak mengetahui adanya aktivitas penyelundupan itu. “Pihak desa memang tidak dilibatkan dalam penangkapan itu,” tegasnya.

Sebagai informasi, Rabu sore (23/7). Tim gabungan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Kepulauan Bangka Belitung dan Satreskrim Polres Belitung mendapat informasi adanya aktivitas mencurigakan di Pantai Sengkelik. Tim segera bergerak dan tiba di lokasi sekitar pukul 18.00 WIB.

“Saat tiba di lokasi, tim menemukan aktivitas pemindahan karung ke perahu, yang diduga karung itu berisi timah,” kata Kasubdit IV Tipidter Ditkrimsus Polda Babel, AKBP M Iqbal Surbakti dalam konferensi pers bersama Kapolres Belitung, AKBP Sarwo Edi Wibowo.

Tim berhasil mengamankan satu orang pelaku berinisial F (23) beserta barang bukti 4.950 kilogram pasir timah yang telah dikemas dalam karung putih dan siap diangkut.

Timah ilegal tersebut dimuat ke dalam kapal kayu berkapasitas 6 gross ton (GT) di pesisir pantai. Menurut pengakuan tersangka, kapal itu hanya berfungsi sebagai pengangkut awal. “Berdasarkan keterangan tersangka, timah ini akan dibawa ke Batam menggunakan speedboat yang menunggu di tengah laut,” ujar AKBP M Iqbal Surbakti.

Skenarionya cukup rapi. Dari kapal kayu, timah dipindahkan ke speedboat di perairan lepas, lalu dibawa ke Batam. Namun rencana itu gagal sebelum bisa dijalankan. Yang menarik, penyelundupan ini tak melibatkan warga sekitar.

Tersangka F merupakan warga kelahiran Pontianak dan beralamat di Langkat, Sumatera Utara. Ia mengaku membeli timah dari sejumlah “meja goyang” dan perorangan di wilayah Belitung Timur dengan harga Rp190 ribu per kilogram, dibayar secara tunai.

“Jadi kasus ini agak unik, karena tersangka tidak melibatkan orang lokal,” ungkap Iqbal. Ia juga menyebutkan bahwa ini adalah kali pertama tersangka melakukan aktivitas penyelundupan.(dol/tea)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved