Berita Belitung

Sisa Sekolah Kuomintang, Dinding Tua Saksi Sejarah Pendidikan di Belitung

Di baliknya kini berdiri bangunan Belitung Mampau Food Court, tempat UMKM lokal menjajakan beragam produk kuliner.

Tayang:
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Kamri
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
SISA BANGUNAN SEKOLAH - Bangunan food court Belitung di Jalan Sriwijaya, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Struktur dinding yang diduga merupakan sisa Sekolah Kuomintang yang berdiri sekitar tahun 1940-an yang kini menjadi bagian depan dari bangunan Mampau Food Court di Jalan Sriwijaya, Tanjungpandan. 

Ringkasan Berita:
  • Sisa bangunan Sekolah Kuomintang, salah satu sekolah tertua di Belitung.
  • Bangunan diperkirakan berdiri sejak awal 1940-an.
  • Sekolah ini menjadi tempat belajar anak-anak Tionghoa buruh tambang.

 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di tengah deretan bangunan modern di Jalan Sriwijaya, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdiri dinding putih yang tampak simetris.

Dua jendela hijau panjang mengapit pintu utama di tengah.

Seolah menjaga sisa-sisa masa lalu yang masih tegak setelah berdiri sekitar delapan dekade.

Di baliknya kini berdiri bangunan Belitung Mampau Food Court, tempat UMKM lokal menjajakan beragam produk kuliner.

Tapi bagian depan bangunan ini bukanlah sembarang dinding, ia adalah sisa asli Sekolah Kuomintang, yang bisa jadi menjadi salah satu sekolah tertua di Belitung.

Bangunan ini diperkirakan berdiri sejak awal 1940-an, masa ketika buruh kontrak asal Tiongkok berdatangan ke Pulau Belitung.

Mereka datang melalui Singapura dan Pontianak, dibawa oleh pemerintah kolonial untuk bekerja di tambang timah.

Bersamaan dengan arus migrasi itu, komunitas Tionghoa mendirikan sekolah-sekolah sebagai sarana pendidikan.

Salah satunya adalah Sekolah Kuomintang, dikenal juga dengan nama Sekolah Pichin.

Tokoh masyarakat Tionghoa Belitung, Ayie Gardiansyah, menjelaskan bahwa sekolah ini berakar dari gerakan pendidikan kelompok nasionalis Tiongkok pimpinan Sun Yat-sen.

“Waktu itu di Tiongkok sedang perang saudara antara kubu komunis dan nasionalis. Kelompok nasionalis mendirikan sekolah di banyak negara, termasuk di Belitung.

Sekolah Kuomintang ini salah satunya,” ujarnya baru-baru ini.

Sekolah ini menjadi tempat belajar anak-anak Tionghoa buruh tambang.

Mereka datang tanpa seragam, seringkali tanpa alas kaki, tapi membawa semangat tinggi untuk belajar membaca dan berhitung.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved