Timah
Harga Timah Dunia Tembus 43.000 USD, Berapa Harga di Masyarakat?
Menurut Beliadi, dengan harga timah dunia setinggi saat ini, semestinya harga beli timah di tingkat masyarakat, baik oleh PT Timah Tbk maupun smelter
Penulis: Rizky Irianda Pahlevy | Editor: Teddy Malaka
POSBELITUNG.CO, BANGKA - Harga timah dunia yang melambung mendekati 43.000 USD per metrik ton seharusnya menjadi kabar baik bagi masyarakat penambang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun realitas di lapangan justru berbanding terbalik. Di tengah angka fantastis di pasar global, penambang lokal masih harus menerima harga beli yang dinilai jauh dari kata layak.
Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Beliadi.
Ia menilai disparitas harga tersebut sebagai bentuk ketidakadilan yang nyata dan terus dirasakan masyarakat penambang.
Menurut Beliadi, dengan harga timah dunia setinggi saat ini, semestinya harga beli timah di tingkat masyarakat, baik oleh PT Timah Tbk maupun smelter, sudah berada di atas Rp350.000 per SN.
Namun fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Ringkasan Berita:
Harga beli masih berkisar di angka Rp300.000, bahkan di beberapa lokasi disebut berada di bawah Rp200.000, meskipun bukan dalam kategori SN.
Baca juga: Ichwan Azwardi Paparkan Potensi SHP Timah hingga Memiliki Nilai Ekonomis yang Tinggi
Baca juga: PT Timah Tbk Bina Ribuan UMKM sejak Tahun 2000
“Dengan harga timah dunia hampir 43.000 USD, harga beli di masyarakat itu sudah sangat tidak wajar. Selayaknya PT Timah dan smelter membeli timah masyarakat di atas Rp350.000 per SN. Ini jelas perlakuan yang tidak adil,” tegas Beliadi, Senin (22/12/2025).
Ia menilai PT Timah yang telah diberikan hak kuasa penambangan dan perlindungan luar biasa oleh negara, seharusnya tidak “mencekik” harga timah masyarakat dengan membeli pada harga serendah-rendahnya.
“Sudah diberi hak yang luar biasa, perlindungan yang luar biasa, tapi harga di masyarakat justru dicekik. Ini sangat tidak berkeadilan,” ujarnya.
Beliadi berharap dalam satu hingga dua hari ke depan, terdapat perubahan nyata terhadap harga beli timah di tingkat masyarakat.
Ia juga mengingatkan agar jangan sampai PT Timah justru membukukan laporan kerugian, di tengah selisih harga yang sangat besar antara harga dunia dan harga beli di masyarakat.
“Kalau dengan margin sebesar ini PT Timah masih melaporkan rugi, maka patut diduga ada masalah serius di internal perusahaan.
Baca juga: AKBP Basuki Resmi Tersangka Tewasnya Dosen Levi, Ini Bukti Kesalahannya
Ini perlu diselidiki kembali, karena bisa saja terjadi praktik-praktik korupsi di dalamnya,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi penambang saat ini sangat berat.
Selain timah yang semakin sulit didapat, biaya operasional terus meningkat, mulai dari harga BBM yang tinggi, jarak tempuh yang semakin jauh, hingga hasil yang tidak sebanding dengan usaha.
“Sekarang nyari timah 1–2 kilo saja sudah susah. Biaya besar, hasil kecil, harga masih dijepit. Kalau begini terus, lama-lama masyarakat penambang bisa mati,” ungkapnya.
Beliadi pun meminta PT Timah untuk lebih membuka hati dan menggunakan rasa dalam menjalankan bisnisnya dengan masyarakat Bangka Belitung.
“Jangan mentang-mentang BUMN lalu beli timah seenaknya ke masyarakat, apalagi selalu mengatasnamakan Presiden. Saya yakin Presiden juga tidak tahu kondisi di bawah seperti apa. Yang saya tahu, Presiden ingin keadilan dan keuntungan bagi masyarakat, tapi itu tidak dirasakan masyarakat timah di Babel hari ini,” pungkasnya.(Rilis/Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy).
| Harga Timah Tembus Rp959 Ribu per Kilogram, Ekspor Babel Melonjak Rp2,59 Triliun |
|
|---|
| Harga Timah Hari Ini Menguat di Tengah Tekanan Pasokan Global, Sentuh Level 47.987 USD per Ton |
|
|---|
| Kajari Basel Tetapkan 10 Tersangka, 8 Bos Timah Ditahan, Negara Rugi Rp4,16 Triliun |
|
|---|
| Tiga Daerah di Bangka Belitung Kantongi WPR, Bagaimana dengan Pulau Belitung? |
|
|---|
| Harga Timah Meroket di Awal 2026, Bertahan di Posisi Rp700 Juta per Ton |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/balok-timah.jpg)