Ahok Minta Presiden dan BUMN Diperiksa Usai Djoko Priyono Dicopot: Dirut Hebat Dimiliki Pertamina 

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi saksi dari JPU dalam kapasitasnya sebagai eks Komisaris Utama (Komut) Pertamina.

Tayang:
Penulis: Rusaidah | Editor: Rusaidah
instagram @tpnganjarmahfud
SENANG DIPANGGIL KEJAGUBG - Mantan Komisaris Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengaacungkan pose salam metal tiga jari di GBK pada Sabtu 3 Februari 2024. Ahok senang dipanggil Kejagung terkait kasus korupsi di PT Pertamina. 

“Ini orang terbaik Pak Djoko itu, makanya saya tulis dicopot. Makanya saya selalu bilang sama pak jaksa, kenapa saya mau laporin ke jaksa? Periksa tuh sekalian BUMN, periksa tuh Presiden bila perlu, kenapa orang terbaik dicopot?” tambah dia. 

Mendengar pernyataan ini, seluruh pengunjung sidang langsung bertepuk tangan dengan meriah. 

Kendati demikian, Hakim Ketua Fajar Kusuma langsung mengetuk palu berkali-kali.

“Tolong, tolong pengunjung, bisa tertib pengunjung, pengunjung. Ini persidangan ya, ini bukan hiburan. Tolong jangan bertepuk, tolong,” tegas dia.

Minta Listyo Sigit Kerahkan Brimob Jaga Kilang Minyak

Dalam sidang tersebut, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) pernah meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengerahkan pasukan Brimob menjaga kilang minyak di Indonesia saat Sigit masih menjabat sebagai kepala Bareskrim. 

Cerita ini diungkap Ahok di sidang korupsi tata kelola minyak mentah saat menjawab pertanyaan  kuasa hukum eks Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan tentang dampak Supplier Held Stock (SPH) terhadap PT Pertamina di era kliennya. 

“Jadi supplier menyetok barangnya. Tanpa kami bayar, diambil baru bayar, Pak. Itu prinsipnya (SPH),” kata Ahok di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditemui usai menghadiri diskusi kebangsaan di Universitas Kristen Petra, Surabaya, Jawa Timur, Senin (19/8/2019).
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditemui usai menghadiri diskusi kebangsaan di Universitas Kristen Petra, Surabaya, Jawa Timur, Senin (19/8/2019). (KOMPAS.COM/GHINAN SALMAN)

Ahok menyebutkan, penerapan SPH ini belum berjalan dengan semestinya.

Baca juga: Sosok Bambang Yunianto Kajari Sleman Dipanggil DPR Buntut Hogi Minaya Jadi Tersangka Kejar Jambret

Sebab, Pertamina saat ini masih membutuhkan lahan yang sangat besar untuk kilang minyak di Tuban.

“Makanya waktu uji coba di dekat Tanjung Uban, itu uji coba kecil. Nah saya tidak puas. Saya maunya besar. Supaya apa? Keuntungannya kita enggak ada lagi tender dadakan, Pak,” ujar Ahok

“Kenapa? Karena kilang kami kan kilang tua, Pak ya. Kadang-kadang kilang itu bisa unplanned shutdown,” ucap dia melanjutkan.

Dalam konteks ini, unplanned shutdown merupakan kondisi ketika kilang berhenti beroperasi secara tiba-tiba dan tidak direncanakan. 

“Saya tentu suudzon. Ini sengaja atau mau beli minyak? Waktu itu Pak Kapolri, Pak Sigit, masih Kabareskrim. Saya datang kepada beliau, ‘Kirim Brimob, tungguin semua kilang kami. Siapapun yang macam-macam sabotase, tembak’, saya bilang,” ucap Ahok

“Karena tiap kali itu unplanned shutdown, Singapura pesta pora. Kita butuh solar, butuh minyak, cepat-cepat beli. Dan yang mau stok di sini sedikit. Karena enggak ada jaminan beli, Pak,” kata dia melanjutkan. 

Eks Gubernur Jakarta itu menjamin, pemerintah akan mempunyai cadangan minyak lebih dari 30 hari jika sistem besutannya ini berjalan sebagaimana mestinya.

Terdakwa Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved