Breaking News:

OPINI

Revitalisasi Budaya Daerah di Ranah Pendidikan

Perubahan ini berimplikasi terhadap otonomisasi pendidikan terutama menyangkut peran sekolah

net/google
Ilustrasi foto 

Tidak ada yang menguasai ketika semua yang diciptakan Tuhan ditujukan untuk makhluk ciptaannNya. Ikan memerlukan air, manusia memerlukan tanah untuk bermukim.Tanaman memerlukan tanah, air, angin sebagai penyerbuk dan matahari untuk proses fotosintetis. 

Tanah air ini untuk dimanfaatkan,  saling melengkapi bukan dikuasai. Bahkan dalam pendidikan kebangsaan, air dan tanah diberikan makna.yang lebih luas. Tanah air dijadikan simbol persatuan sebagaimana dinyatakan pada Sumpah Pemuda.

Bagaimana pengetahuan alam menjadi basis pendidikan kebangsaan yang hidup dan berkembang diluar sekolah bahkan sudah ada sebelum dikenal pendidikan modern seperti sekarang ini, seharusnya menjadi dasar pemikiran untuk mengkaji, melestarikan dan mewariskan pengetahuan dan kearifan lokal. 

selanjutnya unsur lokalitas ini diintegrasikan kedalam kurikulum pendidikan di sekolah formal.

Pengetahuan lokal melingkupi logika bertahan hidup sedang kearifan lokal menjadi logika berkelanjutan. Rangkaian pengetahuan yang hidup dan berkembang diwujudkan dalam kebudayaan material.

Di dalamnya terdapat artefak, perilaku kinetis, bahasa lisan, teks (Katubi, Thung Ju Lan dan Memen Durachman, 2013:7). Untuk mengintegrasikan kebudayaan material kedalam kurikulum diperlukan analisis terhadap kebudayaan.

Lebih lanjut, Katubi, Thung Ju Lan dan Memen Durachman (2013:7) menegaskan, hal utana yang harus diperhatikan dalam analisis kebudayaan material ialah hubungan antara orang dan kebudayan material tersebut.

Dengan demikian penguatan terhadap  pendidikan berbasis masyarakat tidak sebatas menerima masukkan masyarakat lalu dituangkan diatas kertas tetapi mengkaji lebij dalam jejak kebudayaan material.

Hal ini didasari pendapat Hodder (1997:546) yang menyatakan bahwa jejak material perilaku memberikan arti yang penting dan berbeda dengan jejak perilaku yang dihasilkan melalui kuesioner.

Hodder menyadari bahwa apa yang dikatakan manusia berbeda dengan apa yang dilakukannya. Selain itu kuesioner yang lazim diajukan dalam penelitian dalan merumuskan kebijakan kurikulum bersifat terbatas dengan cenderung bias.

Halaman
1234
Editor: Edy Yusmanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved