OPINI
Revitalisasi Budaya Daerah di Ranah Pendidikan
Perubahan ini berimplikasi terhadap otonomisasi pendidikan terutama menyangkut peran sekolah
Hodder juga menegaskan bahwa nilai penting analis kebudayaan material lahir karena kesadaran bahwa kebudayaan material tidak hanya sebagai sebuah produk-pasif kisah kehidupan namun sebaliknya, justru sebagai sebuah produk-aktif dari kisah kebudayaan.
Maksudnya, berbagai artefak budaya diciptakan sebagai perangkat transformasi masyarakat (Katubi, Thung Ju Lan dan Memen Durachman,2013:7).
Artefak budaya diciptakan sebagai perangkat transformasi masyarakat selaras dengan tujuan pendidikan yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga pendidikan tidak terlepas dari sistem sosial yang melingkupinya.
Transformasi sosial ini tidak terlepas dari dinamika tranformasi sektoral di bidang ekonomi. Orientasi pendidikan yang mendukung sektor pertanian mulai bergeser ketika bertranformasi ke sektor industri begitupun ketika sektor informasi mulai menggeliat dan mempengaruhi sendi kehidupan sekarang ini.
Hubungan saling mempengaruhi antara kebudayaan material dengan pendidikan di ranah sosial memiliki jalinan yang kompleks. Setidaknya jalinan ini telah dipetakan.
Berdasarkan pendapat Kristian Kristiansen (2004) digambarkan keterkaitan antara sosial reproduksi (institusi, prosesi, hukum dan norma), kultural reproduksi (seni, arsitektur, peralatan) dan tradisi (mitos, kepercayaan, kosmologi dan ritual). Dinamika hubungan ketiganya mengakji praktik performasi dan agensi.
Proses ini hanya bisa terjadi melalui proses dialektika antara beberapa konsep. Ini menunjukkan bahwa pendidikan di ranah tradisi sesungguhnya sudah lama ada, sudah diakses lebih dulu oleh masyarakat. Namun institusi ini tidak diperkuat
Rumusan Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pada pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM) merupakan manifestasi dari demokratisasi pendidikan yang berasal dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dengan PBM diharapkan akses masyarakat terhadap pendidikan semakin ditingkatkan.
Tiga variabel penting dalam pengelolaan dan pengembangan sekolah, dan menjadi bagian integral dari hidden curriculum (Glatthohiddnee, 1987:22).
Pertama, variabel organisasi, yakni kebijakan penungasan guru dan pengelompokkan siswa untuk proses pembelajaran. Kedua, variabel sistem sosial yakni suasana sekolah yang tergambar dari pola-pola hubungan semua komponen sekolah.
Ketiga, variabel budaya, yakni dimensi sosial yang terkait dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan struktur kognitif. Berbagai faktor yang terkait dengan variabel kultur dan menjadi bagian penting dalam hidden curriculum.
Menurut Allan A Glatthorn hidden curriculum tidak menjadi bagian untuk dipelajari namun mampu memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, perilaku siswa (Glatthorn, 1987:20)
Otonomi daerah memberikan kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum sebagai komponen pendidikan. Kewenangan ini semestinya membuka ruang bagi kebudayaan daerah sebagai bagian penting dari proses belajar mengajar di sekolah maupun organisasi yang menjamin mutu pendidikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/ilustrasi-foto_20180410_104922.jpg)