OPINI

Revitalisasi Budaya Daerah di Ranah Pendidikan

Perubahan ini berimplikasi terhadap otonomisasi pendidikan terutama menyangkut peran sekolah

Editor: Edy Yusmanto
net/google
Ilustrasi foto 

Ketiga, variabel budaya,  yakni dimensi sosial yang terkait dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan struktur kognitif. Berbagai faktor yang terkait dengan variabel kultur dan menjadi bagian penting dalam hidden curriculum.

Menurut Allan A Glatthorn hidden curriculum tidak menjadi bagian untuk dipelajari namun mampu memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, perilaku siswa (Glatthorn, 1987:20)

Otonomi daerah memberikan  kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum sebagai  komponen pendidikan. Kewenangan ini semestinya membuka ruang bagi ke budayaan daerah sebagai bagian penting dari proses belajar mengajar di sekolah maupun organisasi yang menjamin mutu pendidikan.

Rifa’i  (2016:15) menyebutkan ada tiga sifat pendidikan yang dianggap sebagai sifat dari pendidikan klasik, yakni sebagai berikut : 1) Bersifat praktis, ketrampilan yang diajarkan terutama ketrampilan yang berguna untuk hidupnya. 2) Bersifat imitatif , yaitu meniru apa yang dilakukan orang tuanya. 3). Bersifat Statis, yaitu hanya terbatas pada kemampuan orangtua yang tetap (Soemanto dan Soeryono Soemanto dan Soeryono, 1983:23-24).  Aktivitas pendidikan klasik berada di wilayah domestik namun dipengaruhi oleh sistem sosial. Orang merasa bertanggung jawab penuh tidak menyerahkan urusan mendidikan, membekali anak dengan kecakapan hidup kepada institusi pendidikan seperti yang terjadi pada saat ini.  amulai ditinggalka ketika sistem pendidikan menganut sistem pendidikan barat sebagaimana yang diembangkan oleh Budi Utomo.  

Dibutuhkan proses dialektika antara beberapa konsep pendidikan agar unsur ke budayaan material yang melingkupi tradisi, artefak dan bahasa bisa menjadi basis pendidikan.

Sebuah jejak kisah kehidupan tentunya memiliki ide, gagasan dan konsep yang bisa menjadi  sebuah rumusan strategis  bagi pendidikan berbasis masyarakat. Walaupun tidak bisa dipungkiri terdapat kesulitan mengatasi kesulitan masyarakat dalam  mengartikulasi ke budayaan.

Seringkali sumber pengetahuan yang bersumber dari masyarakat dianggap mitos, berbau klenik atau lebih mengedepankan supranatural. Padahal jika hal ini dikaji lebih dalam, mitos, ritual berbau klenik atau supranatural didasari atas  ideologi dan filosofi yang kemudian diwujudkan kedalam bentuk  pengetahuan lokal (indigeneous knowledge) atau juga dikenal dengan istilah etnosains.

Hal  inilah yang seringkali tidak dipahami oleh penyelenggara pendidikan di sekolah-sekolah.

Etnosains berasal dari dari kata ethnos (bahasa Yunani) yang berarti bangsa, dan scientia (bahasa Latin) artinya pengetahuan. Menurut Henrietta L. (1998) etnosains adalah cabang pengkajian budaya yang berusaha memahami bagaimana pribumi memahami alam mereka.  

Pribumi biasanya memiliki ideologi dan falsafah hidup yang mempengaruhi mereka mempertahankan hidup. Atas dasar ini, dapat dinyatakan bahwa etnosains merupakan salah satu bentuk etnografi baru (the new ethnography).

Usaha untuk mengintegrasikan etnosains ke dalam kurikulum pendidikan sebenarnya telah disarankan sejak tahun 1970 oleh Building seperti dikutip oleh Wahyudi (2003).

Upaya untuk mengintensifkan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  dengan memantapkan program tematik dan riset dasar dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan pun  sudah dituangkan kedalam  Rencana Strategis  Departemen Pendidikan Nasional  2005-2009.

Sayangnya kebanyakan sekolah mengesampingkan etnosain  yang lebih lama  berkembang  di masyarakat. Oleh karena itu , semestinya etnosain diharapkan menjadi bentuk rumusan pendidikan berbasis masyarakat.

Pendapat Kristian Kristiansen (2004) dalam dalam menganalisis hubungan dinamika integrasi antara institusi  dan tradisi serta hubungannya dengan ke budayaan material, makna simbolik  dan materialisasi ke budayaan bisa menjadi rujukan bagaimana pendidikan berbasis masyarakat bisa dibangun.

Hubungan dinamis ini akan mempengaruhi ke budayaan material dimana artefak tidak lagi merupakan jejak perjalanan masyarakat namun mampu mentranformasikan sistem nilai yang selanjutnya berpengaruh terhadap kinerja institusi yang menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat (*)

               

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved