OPINI
Revitalisasi Budaya Daerah di Ranah Pendidikan
Perubahan ini berimplikasi terhadap otonomisasi pendidikan terutama menyangkut peran sekolah
Rifa’i (2016:15) menyebutkan ada tiga sifat pendidikan yang dianggap sebagai sifat dari pendidikan klasik, yakni sebagai berikut : 1) Bersifat praktis, ketrampilan yang diajarkan terutama ketrampilan yang berguna untuk hidupnya. 2) Bersifat imitatif , yaitu meniru apa yang dilakukan orang tuanya. 3). Bersifat Statis, yaitu hanya terbatas pada kemampuan orangtua yang tetap (Soemanto dan Soeryono Soemanto dan Soeryono, 1983:23-24). Aktivitas pendidikan klasik berada di wilayah domestik namun dipengaruhi oleh sistem sosial. Orang merasa bertanggung jawab penuh tidak menyerahkan urusan mendidikan, membekali anak dengan kecakapan hidup kepada institusi pendidikan seperti yang terjadi pada saat ini. amulai ditinggalka ketika sistem pendidikan menganut sistem pendidikan barat sebagaimana yang diembangkan oleh Budi Utomo.
Dibutuhkan proses dialektika antara beberapa konsep pendidikan agar unsur kebudayaan material yang melingkupi tradisi, artefak dan bahasa bisa menjadi basis pendidikan.
Sebuah jejak kisah kehidupan tentunya memiliki ide, gagasan dan konsep yang bisa menjadi sebuah rumusan strategis bagi pendidikan berbasis masyarakat. Walaupun tidak bisa dipungkiri terdapat kesulitan mengatasi kesulitan masyarakat dalam mengartikulasi kebudayaan.
Seringkali sumber pengetahuan yang bersumber dari masyarakat dianggap mitos, berbau klenik atau lebih mengedepankan supranatural. Padahal jika hal ini dikaji lebih dalam, mitos, ritual berbau klenik atau supranatural didasari atas ideologi dan filosofi yang kemudian diwujudkan kedalam bentuk pengetahuan lokal (indigeneous knowledge) atau juga dikenal dengan istilah etnosains.
Hal inilah yang seringkali tidak dipahami oleh penyelenggara pendidikan di sekolah-sekolah.
Etnosains berasal dari dari kata ethnos (bahasa Yunani) yang berarti bangsa, dan scientia (bahasa Latin) artinya pengetahuan. Menurut Henrietta L. (1998) etnosains adalah cabang pengkajian budaya yang berusaha memahami bagaimana pribumi memahami alam mereka.
Pribumi biasanya memiliki ideologi dan falsafah hidup yang mempengaruhi mereka mempertahankan hidup. Atas dasar ini, dapat dinyatakan bahwa etnosains merupakan salah satu bentuk etnografi baru (the new ethnography).
Usaha untuk mengintegrasikan etnosains ke dalam kurikulum pendidikan sebenarnya telah disarankan sejak tahun 1970 oleh Building seperti dikutip oleh Wahyudi (2003).
Upaya untuk mengintensifkan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memantapkan program tematik dan riset dasar dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan pun sudah dituangkan kedalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional 2005-2009.
Sayangnya kebanyakan sekolah mengesampingkan etnosain yang lebih lama berkembang di masyarakat. Oleh karena itu , semestinya etnosain diharapkan menjadi bentuk rumusan pendidikan berbasis masyarakat.
Pendapat Kristian Kristiansen (2004) dalam dalam menganalisis hubungan dinamika integrasi antara institusi dan tradisi serta hubungannya dengan kebudayaan material, makna simbolik dan materialisasi kebudayaan bisa menjadi rujukan bagaimana pendidikan berbasis masyarakat bisa dibangun.
Hubungan dinamis ini akan mempengaruhi kebudayaan material dimana artefak tidak lagi merupakan jejak perjalanan masyarakat namun mampu mentranformasikan sistem nilai yang selanjutnya berpengaruh terhadap kinerja institusi yang menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/ilustrasi-foto_20180410_104922.jpg)