Breaking News:

Kisah Perawat Tangani Pasien Positif Corona: Terkadang Saya Merasa Bertanggungjawab atas Kematiannya

Ventilator mengambil alih proses pernapasan tubuh ketika Virus Corona sudah sampai pada tahap membuat paru-paru gagal berfungsi.

BBC Indonesia/Istimewa
Juanita Nittla 

"Saya duduk di sampingnya, memegang tangannya sampai ia meningggal dunia," ungkapnya.

Pasien menghembuskan napas terakhir lima menit setelah Nittla mematikan ventilator.

"Saya melihat cahaya berkedip-kedip di layar dan detak jantung menunjukkan angka nol - garis datar - di layar," jelasnya.

Langkah selanjutnya, Nittla mencabut selang obat bius.

Putri dari pasien masih berbicara kepada ibunya dan mendoakannya melalui sambungan telepon. Nittla mengambil telepon dan mengabarkan kepadanya bahwa ibunya telah tiada.

"Dengan bantuan seorang kolega, saya memandikan jenazah di tempat tidur dan membungkusnya dengan kain putih dan memasukkan jenazah itu ke dalam kantong mayat. Saya membuat tanda salib di keningnya (sesuai permintaan keluarga) sebelum menutup kantong itu," tambah Nittla.

Mimpi buruk

Nittla menuturkan kenyataan bahwa ia mampu merawat pasien yang sekarat telah membantunya menangani krisis.

Karena jumlah pasien meningkat drastis, kapasitas unit kritis di Royal Free Hospital ditambah dari 34 menjadi 60 tempat tidur.

"Biasanya di unit perawatan kritis kita memberlakukan rasio satu perawat untuk setiap pasien. Sekarang satu perawat untuk tiga pasien," kata Nittla.

Halaman
1234
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved