Perang Rusia dan Ukraina

Putin Sukses Runtuhkan Kekuatan Amerika dan Eropa, Sanksinya Senjata Makan Tuan, Asia jadi Penguasa

Sanksi Amerika dan Eropa ke Rusia jadi senjata makan tuan, masa kejayaannya sudah berakhir digantikan oleh Asia

Editor: Hendra
(Dok. Sekretariat Presiden)
Presiden Joko Widodo dan Presiden Vladimir Putin saat bertemu di Istana Kremlin, Moskwa, Rusia, Kamis (30/6/2022). 

POSBELITUNG.CO -- Negara barat yang bergabung di Uni Eropa merupakan sekutu bagi Ukraina.

Sejak pecahnya perang Rusia dan Ukraina, dukungan dari Eropa terus mengalir ke Ukraina.

Dibawah komando Amerika Serikat, Rusia pun kemudian dijatuhkan bertubi-tubi sanksi.

Dan tercatat dalam sejarah di dunia, Rusia negara pertama yang mendapat sanksi paling banyak.

Dari sanksi ekonomi, olahraga, energi hingga diplomasi pun dikucilkan oleh Barat.

Baca juga: Rusia Tak Tergoyahkan, Eropa sudah Kewalahan Bantu Ukraina, Stok Senjata dan Amunisi Makin Menipis

Rupanya, sanksi yang dijatuhkan itu malah membuat negara Eropa goyah.

Perekonomian dunia pun menjadi goyah setelah Eropa berikut Amerika menjatuhkan sanksi ke Rusia.

Seperti senjata makan tuan, sebaliknya Rusia malah tetap tak tergoyahnya meskipun dijatuhkan banyak sanksi dari Eropa.

Hal ini mengisyaratkan bahwa kekuatan Eropa telah runtuh.

Bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kejayaan Amerika Serikat dan para sekutunya di Eropa telah berakhir.

Saat ini yang Asia sedang bangkit dan menjadi penguasa di masa depan.

Seperti laporan Straits Times, Rabu (7/9/2022), Vladimir Putin mengatakan Barat telah gagal dengan upaya yang sia-sia dan agresif untuk mengisolasi Rusia dengan sanksi yang menghancurkan ekonomi global.

Baca juga: Rusia Kuras Uang Amerika, Alasan Bantu Ukraina Joe Biden Minta 11,27 Miliar Dollar ke Kongres AS

Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan sanksi paling berat dalam sejarah modern terhadap Rusia atas apa yang disebut Putin sebagai operasi militer khusus di Ukraina.

Putin, berbicara kepada Forum Ekonomi Timur di kota Vladivostok Rusia Timur Jauh, mengatakan sanksi telah menggantikan pandemi Covid-19 sebagai ancaman utama bagi ekonomi global.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved