Berita Pangkalpinang

Molen Kesal Geng Motor di Pangkalpinang Bikin Resah

Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil, dibikin kesal dan geram. Pasalnya kini marak aksi kejahatan Geng Motor ini.

Tayang:
net
Ilustrasi balapan liar 

"Memang benar kami sudah menerima laporan dari korban yang diserang oleh sekelompok pemuda yang diduga geng motor," kata Evry saat dikonfirmasi, Sabtu (19/8/2023).

Begini Kata Anggota DPRD Babel

Aksi geng motor yang melakukan penganiayaan dan tawuran antara pelajar di Kota Pangkalpinang membuat Anggota Komisi IV DPRD Babel, Aksan Visyawan, prihatin.

"Kita prihatian, lakukan evaluasi terutama terkait pendidikan agama, apakah sudah maskimal. Dari kuantitas dan kualitas pendidikan agama, budi pekerti yang harus ditingkatkan," kata Aksan Visyawan kepada Bangka Pos Group, Senin (21/8/2023) di DPRD Babel.

Politikus PKS ini juga menilai perilaku kriminalitas dan sikap premanisme dapat muncul dari lingkungan serta akibat kebebasan mengakses informasi.

"Kita harus ekstra memperhatikan, dengan terbukanya informasi ditambah sangat minim pendidikan agama, ini menjadi tanggung jawab kita bersama," tandasnya.

Aksan mengharapkan, peran pemerintah dalam mencegah aksi premanisme melalui sejumlah program atau kebijakan Dinas Pendidikan Babel.

"Peran pemerintah harus besar, terutama memperhatikan kasus yang sedang marak saat ini. Dari persoalan pendidikan, ekonomi. Harapan kita ada evaluasi bagaimana pemerintah meningkatkan pendidikan moral, sehingga kasus perkelahian dan lain dapat dihentikan," terangnya.

Aksan mengingatkan hal ini akan bahaya apabila dibiarkan.

"Marilah kita melalui dinas pendidikan, guru di sekolah, menambah kuantitas dan kualitas penanaman moral pada anak didik. Jadi harus ditingkatkan dan anak-anak harus dibiasakan berbuat baik," pungkasnya.

Begini Kata Akademisi

Luna Febriani, Akademisi sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB), ikut menyoroti pertikaian antara kelompok remaja atau tawuran dengan menggunakan senjata tajam di Kota Pangkalpinang.

"Perilaku perkelahian kelompok atau tawuran ini termasuk dalam kategori dari perilaku menyimpang karena perilaku ini tidak sesuai dengan norma dan nilai yang ada dan berkembang dalam masyarakat, yang mana norma dan nilai dalam masyarakat sangat menjunjung tinggi kehidupan harmonis dan perdamaian," ujar Luna, Senin (21/8/2023).

Dia menyebutkan perilaku tawuran merupakan perilaku menyimpang sosial kolektif karena ini melibatkan kelompok dengan kelompok, bukan sekadar individu dengan individu.

Perilaku menyimpang sosial kolektif memiliki kompleksitas yang tinggi dibanding perkelahian antar individu.

"Di mana, di satu sisi tawuran antar kelompok ini menunjukkan bahwa adanya solidaritas dan kekuatan kelompok antar pemuda yang tinggi dan kuat dalam suatu kelompok. Namun di sisi lain solidaritas yang tinggi dalam kelompok biasanya kerap memunculkan dan membangkitkan keberanian-keberanian dalam diri individu yang dapat berujung pada aktitivas-aktivitas yang cenderung destruktif," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan keberanian ini dapat muncul seketika dalam diri anggota kelompok ketika mereka memiliki nilai, perasaan dan kepentingan yang sama.

"Selain itu, perkelahian antar kelompok remaja juga acapkali tidak memiliki penyebab dan sasaran yang jelas. Perkelahiaan atau tawuran antar remaja pada akhirnya sering berujung pada tindakan yang membabi buta dan kerap di luar sasaran, yang mana tujuannya lebih mengarah pada penunjukkan eksistensi identitas kelompok yang superior," kata Luna.

Aktivitas tawuran selain untuk melakukan balas dendam terhadap kelompok lain juga menjadi ajang untuk menunjukkan kelompok mana yang yang lebih kuat dan kelompok mana yang lemah.

"Hal ini semakin menjadikan tawuran antar kelompok remaja sulit dilerai dan dicegah, mengingat ada unsur ego kelompok yang berpartisipasi dalam penyebab terjadinya tawuran antar kelompok," imbuhnya.

Maka, lingkungan dan kondisi sosial tempat remaja tumbuh dan berkembang sangat berpengaruh terhadap terjadinya perilaku menyimpang pada remaja.

Secara sosiologis, ada beberapa hal yang menjadikan seseorang melakukan perilaku menyimpang.

Pertama, dari hasil sosialisasi nilai-nilai sub kebudayaan yang menyimpang. Maksudnya adalah ketika individu tinggal dalam daerah-daerah yang tidak teratur dan tidak memiliki organisasi yang baik, seperti tinggal dalam lingkungan yang didominasi oleh kelompok perampok dan penjahat maka proses sosialisasi dan pembentukan nilai-nilai berasal dari subkebudayaan yang menyimpang.

Dan ini menyebabkan individu melakukan perilaku menyimpang juga dan membenarkan aktivitas perilaku menyimpang, karena mereka terbiasa dengan nilai-nilai yang seperti itu.

Kedua, individu dapat melakukan perilaku menyimpang karena belajar perilaku menyimpang dari interaksi sehari-harinya, bisa belajar dari melihat orang lain, melihat di majalah, televisi hingga radio.

Ketiga ada kecenderungan individu dalam berinteraksi sehari-hari akan memilih berinteraksi dengan kelompok yang dia sukai.

"Ketika dalam suatu kelompok memegang nilai-nilai yang menyimpang dan melakukan perilaku menyimpang, maka individu tersebut juga dapat tersugesti dan terinspirasi melakukan perilaku menyimpang," tegas Luna.

(Posbelitung.co/t2/riu/s2)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved