Perang di Palestina

Rabi Yahudi Ortodok Tuntut Netanyahu dan Anak Buahnya Diseret ke Penjara Karena Membunuh Warga Sipil

Rabi Yahudi Ortodok tuntut Israel dihukum atas pembantaian warga Palestina, desak Mahkamah Internasional seret Netanyahu dan anak buahnya ke penjara

Penulis: Hendra CC | Editor: Hendra
AFP/MOHAMMED ABED
Anak-anak Palestina berlarian saat mereka melarikan diri dari pemboman Israel di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 6 November 2023, di tengah berlanjutnya pertempuran antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas. (Photo by Mohammed ABED / AFP) 

“Saya yakin orang-orang Yahudi akan ditrerima kembali untuk hidup di bawah yurisdiksi Palestina-Muslim. Mereka akan diterima untuk hidup bersama mereka dengan hak-hak agama yang penuh,” sambung Sofer.

Sofer pun mengatakan bahwa perdamaian antara Palestina dan Israel bisa terjadi berkaca dari peristiwa penghapusan rezim apartheid di Afrika Selatan.

“Akhir dari negara Israel “jelas akan datang… karena pemberontakan terhadap Tuhan tidak akan berhasil,” katanya.

Di sisi lain, Sofer mengatakan ratusan ribu orang Yahudi yang tersebar di beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), dan lainnya sudah tidak tertarik untuk mendukung langkah apapun yang dilakukan Israel.

Umat Islam Bakal Lindungi Orang Yahudi

Sofer juga mengatakan bahwa perdamaian dapat terjadi lantaran umat Islam di Palestina tidak memusuhi Yahudi.

Adapun pernyataan Sofer ini mengutip deklarasi dari para pemimpin dan kelompok di Palestina yang telah hidup berdampingan secara harmonis selama ribuan tahun.

Dia pun mencontohkan beberapa peristiwa sejarah yang membuktikan umat Islam hidup berdampingan secara harmonis dengan orang Yahudin seperti saat kekuasaan Islam di Spanyol.

Baca juga: Israel Playing Victim, Sebut ICJ Pengadilan Munafik, Samakan Serangan Hamas seperti Holocaust Nazi

Kemudian, saat datangnya orang Kristen dan mengambil alih Spanyol, 300 ribu orang Yahudi pun diusir.

“Ke mana mereka (orang Yahudi) pergi? Cina, Jepang, Australia? Tidak. Mereka pergi ke Turki, mereka pergi ke Aljazair, Tunisia, Maroko. Terutama ke Turki dan Palestina,” kata Sofer.

Tak sampai di situ, dia juga menceritakan momen saat pemimpin Turki memberikan hak politik hingga beragama bagi orang Yahudi yang terusir dari Spanyol.

Kemudian, di era perang modern seperti Perang Dunia II, orang Yahudi sangat diterima di Albania yang merupakan negara Islam.

Bahkan, Nazi pimpinan Adolf Hitler tidak menyentuh sama sekali orang Yahudi di negara tersebut ketika melakukan penjajahan.

“Orang-orang Yahudi tidak akan memiliki masalah untuk hidup berdampingan dengan orang lain selama mereka tetap berpegang teguh pada ajaran kitab suci mereka, Taurat, dan “tidak memiliki aspirasi untuk mengambil alih tanah, Palestina atau yang lainnya,” kata Sofer.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved