Timah
Kolektor Timah Ungkap Alasan Timah Belitung Dikirim ke Bangka
Seorang pengepul timah yang berinisial IS mengungkapkan bahwa aktivitas tambang sempat menurun sejak Kejaksaan Agung mengungkap kasus tata niaga timah
Penulis: Dede Suhendar | Editor: Teddy Malaka
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Seorang pengepul timah yang berinisial IS mengungkapkan bahwa aktivitas tambang sempat menurun sejak Kejaksaan Agung mengungkap kasus tata niaga timah yang melibatkan sejumlah nama besar.
"Saat terjadi kasus Kejagung, perusahaan-perusahaan swasta kan tutup, tapi masih ada yang buka, lantaran tidak terseret kasus. Mereka juga masih punya kuota," ujarnya saat dihubungi posbelitung.co.
Setelah kuota perusahaan swasta habis, Kementerian ESDM belum menetapkan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) baru untuk menampung hasil tambang masyarakat.
Kemungkinan, PT Timah Tbk yang menampung timah masyarakat tersebut dengan cara pengepul bekerja sama dengan mitra mereka.
Namun, PT Timah tetap memperketat aturan dengan mitra mereka karena perusahaan plat merah tidak boleh menerima timah hasil tambang di luar Izin Usaha Pertambangan (IUP).
"Karena jalur ilegal ini masih terbuka, kemungkinan itu yang menjadi penyebab terjadinya pengiriman timah ke Bangka itu," ungkap IS.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah kendaraan bermuatan timah tertangkap seusai menyeberang dari Belitung ke Pulau Bangka. Tercatat dua kasus, satu di antaranya, timah yang diselundupkan di dalam truk membawa daging babi.
Menurut Is, tambang timah ilegal tidak berkaitan dengan kuota yang ditetapkan Kementerian ESDM. Karena aktivitas tambangnya saja sudah dari lokasi yang ilegal, sehingga jalur selanjutnya juga tidak sesuai aturan.
Jalur ilegal tersebut dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk meraup keuntungan, dan dampaknya dirasakan oleh masyarakat penambang di level bawah.
Karena jika kuota yang ditetapkan tidak mampu menampung potensi yang ada, secara otomatis timah masyarakat tidak dibeli. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh pengepul dan kolektor untuk membeli timah dengan harga murah. "Harga tetap ditekan mereka karena tidak ada yang beli. Jadi yang untung itu orang-orang bermodal dan punya jalur sendiri," katanya.
IS menambahkan, meskipun kuota yang ditetapkan berimbang dengan potensi, tanpa diimbangi dengan harga beli yang sepadan, tidak akan efektif.
Penambang tetap memilih pengepul atau kolektor yang membeli dengan harga tinggi. "Harga ini kan tidak sama masing-masing pengepul dan kolektor.
Mereka tetap bersaing untuk mendapatkan timah masyarakat," katanya.
Harga jual timah memang berbeda di tiap tingkatan mulai dari kolektor hingga meja goyang. Kolektor biasanya mengambil keuntungan dari harga yang ditawarkan smelter atau PT Timah Tbk.
Harga tersebut kemudian dipotong dan ditawarkan kembali kepada meja goyang yang menerima timah dari masyarakat.
| Harga Timah Hari Ini Menguat di Tengah Tekanan Pasokan Global, Sentuh Level 47.987 USD per Ton |
|
|---|
| Kajari Basel Tetapkan 10 Tersangka, 8 Bos Timah Ditahan, Negara Rugi Rp4,16 Triliun |
|
|---|
| Dentum Meriam di Laut Babel, TNI AL Latihan dan Pamerkan Sitaan Timah Rp173,6 Miliar |
|
|---|
| Tiga Daerah di Bangka Belitung Kantongi WPR, Bagaimana dengan Pulau Belitung? |
|
|---|
| Harga Timah Meroket di Awal 2026, Bertahan di Posisi Rp700 Juta per Ton |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/Ilustrasi-bijih-timah-Juli-2024.jpg)