Awal Puasa 1 Ramadhan 2025 Diprediksi Berbeda, Tapi Lebaran Idul Fitri Sama, Ini Penjelasannya

Tahun ini, awal puasa Ramadhan diperkirakan berbeda antara Muhammadiyah dan Pemerintah.

Editor: Alza
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PUASA - Anggota tim Rukyatul Hilal memantau hilal penetapan jadwal puasa 2018 di Masjid Al Musari'in, Basmol, Jakarta, Selasa (15/5/2018). Awal puasa 1 Ramadhan 1446 H bakal berbeda antara Pemerintah dan Muhammadiyah. 

POSBELITUNG.CO - Tahun ini, awal puasa Ramadhan diperkirakan berbeda antara Muhammadiyah dan Pemerintah.

Namun, lebaran Idul Fitri 2025 diprediksi sama.

Penentuan 1 Ramadan ditentukan oleh pemerintah dan sejumlah organisasi Islam.

Pemerintah menetapkannya melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI, sementara organisasi Islam lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga memiliki metode masing-masing.

Pemerintah baru menggelar dan mengumumkan hasil sidang Isbat puasa 2025, Jumat (28/2/2025) malam.

Adapun kriteria yang akan digunakan Kemenag menggunakan kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni imkanur rukyat. 

Menurut metode ini, hilal dianggap memenuhi syarat apabila posisinya mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. 

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin menyebut hilal yang memenuhi kriteria MABIMS tersebut diprediksi hanya akan terlihat di Aceh. 

"Awal Ramadan ini posisi hilal yang memenuhi kriteria itu hanya di wilayah Aceh, di wilayah lain belum memenuhi kriteria," ucap Thomas, dikutip dari YouTube BRIN Indonesia, Selasa (25/2/2025). 

Lebih lanjut, Thomas menjelaskan pada penentuan awal Ramadhan yang berlangsung pada 28 Februari 2025, tinggi bulan di Aceh yakni 4,5 derajat, sementara elongsinya 6,4 derajat yang artinya memenuhi kriteria. 

"Oleh karenanya di kalender resmi Kemenag, itu tanggal 1-nya ditulis 1 Maret, 1 Ramadhan.

Tetapi nanti itu akan dibuktikan untuk bahan sidang isbat itu rukyat tanggal 28 Februari 2025, dan rukyat di wilayah lain.

Walaupun ada yang mengaku melihat hilal itu biasanya akan ditolak karena belum memenuhi kriteria," ungkapnya. 

Sementara menurut analisis BRIN, posisi bulan saat magrib 28 Februari 2025 di Surabaya yakni tinggi toposentrik 3,7 derajat, sementara elongasi geosentrik 5,8 derajat sehingga kurang dari kriteria MABIMS. 

Thomas menyebut adanya hasil pemantauan hilal yang tidak memenuhi kriteria MABIMS, maka diprediksi 1 Ramadhan 1446 H akan jatuh pada 2 Maret 2025. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved