Mengenal Tradisi Nugal, Budaya Agraris Belitong yang Semakin Langka

Nugal kini semakin sulit ditemui, setelah budaya tambang mendominasi mata pencaharian masyarakat pedesaan di Pulau Belitung

Tayang:
posbelitung.co/Wahyu Kurniawan
Aktivitas nugal dan menyemai padi. 

"Petani, kalau padi hasi panennya itu dak di tumbuk, benih itu cukup, tapi terkadang kan ditumbuk, makanya benihnya jadi terbatas," jelas Jaka.

Ia mengatakan jumlah produksi padi ladang masih minim dan terbatas hanya untuk kebutuhan keluarga. Keterbatasan produksi disebabkan oleh beberapa hal.

Terkadang petani menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam ubi kayu di selah-selah padi.

Selain itu, budidaya padi ladang masih minim teknologi dan sangat bergantung pada kondisi alam, seperti cuaca dan tingkat kesuburan tanah.

Jaka mengatakan petani ladang seperti halnya petani sawah dilindungi oleh undang-undang. Para petani tidak bisa dipaksa untuk menanam satu jenis tanaman tertentu.

Pihaknya juga telah berkomitmen untuk mengakomodir masyarakat yang ingin mengembangkan padi ladang.

Upaya yang dilakukan antara lain dengan mencoba mengarahkan para petani ladang untuk menetap.

Selain untuk mengurangi potensi kerusakan lahan hutan lindung, pembuatan ladang menetap juga memudahkan pihaknya untuk memberikan teknologi pertanian kepada petani.

Menurut Jaka, tradisi nugal dan berume akan berlangsung hingga masa-masa yang akan datang.

Hal itu bisa dilihat dari dukungan pemerintah daerah terhadap pelaksanaan tradisi maras taun sebagai bagian dari budaya agraris masyarakat Belitong.

"Dengan adanya tiap-tiap tahun itu maras taun di kampung-kampung, ya berarti (budidaya padi ladang) masih diakui, kalau kita hilangkan ada apa? Itu kalau alih teknologi kita harus mempersiapkan cadangan-cadangan lahan untuk ladang atau pun cetak cawah," ujar Jaka.

Cikal Bakal Kesenian Daerah

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, Distanhut Beltim, Tri Jaka mengatakan pola budidaya padi ladang terbagi dalam empat tahap.

Di antara tebas, tunu (bakar), tanam, tinggal.

Empat tahap itu menurut merupakan teknik paling mendasar dalam budidaya padi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Pola seperti itu juga sempat berkembang di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Seperti yang dilakukan oleh Mulyadi, petani ladang Desa Batu Penyu, Kecamatan Gantung.

Ia membuka ladang miliknya pada musim kemarau untuk memudahkan proses pembakaran lahan.

Cara ini menurut dia sudah dilakukan sejak jaman nenek moyang mereka.

Setelah dibakar, ladang kemudian dibagi menjadi beberapa bagian dengan menggunakan kayu pembatas. Kayu pembatas itu disebut dengan istilah Kalang.

Kalang memiliki beberapa nama yang dibedakan berdasarkan fungsinya seperti misalnya kalang surik, kalang kerat, kalang nyawe, dan kalang ulu.

Mulyadi mengatakan pembuatan kalang merupakan Pesiqu'an yaitu pembagian lahan yang ditetapkan untuk setiap anggota keluarga dalam satu area ladang.

Meski kini, Mulyadi membuka ladang sendirian namun menurut dia pembuatan kalang tetap harus dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Dalam aktivitas nugal, Mulyadi tidak sendirian. Ia dibantu dua orang keluarganya, Asnin (66) dan Kulup (28).

Asnin yang lebih sepuh menjelaskan masa tanam pertama padi biasa mereka sebut priame, dilakukan pada Juli atau Agustus.

Sedangkan masa panen disebut musim ngetam yang dilakukan pada bulan November atau Desember.

Menurut Asnin, masa panen ditentukan oleh beberapa faktor seperti kecepatan tumbuh bibit padi yang sudah ditanam dan kesuburan padi saat mulai sudah tumbuh. Dua hal itu sangat dipengaruhi faktor cuaca dan keseburan tanah.

"Kalau ade ujan, seminggu udah tumbuh, tapi kalau dak ujan-ujan bisa sampai satu bulan," jelas Asnin.

Sementara bagi ibu-ibu, aktivitas menanam padi tak lebih dari sekadar membantu keluarga dan berolahraga. Silih berganti mereka mengisi setiap lobang yang telah ditugal dengan beberapa biji benih padi.

"Lumayan capek juga, tapi ini sekalian olahraga juga, buat cari keringat," ujar seorang ibu selepas membantu menanam padi.

Sementara pemerhati sejarah dan budaya Belitong Salim YAH mengatakan kebudayaan berume tak hanya melahirkan tradisi nugal, tapi juga ikut mempengaruhi munculnya sejumlah kesenian daerah yang kini masih bisa dilihat.

Di antaranya gasing, kelinangan, gambus, dan lesong panjang.

Kesenian itu menurut Salim berawal dari kegiatan penghuni kubok dalam mengisi waktu luang di ume selama menunggu masa panen tiba.

Sejumlah kesenian itu jelasnya akan ditampilkan kembali oleh masyarakat saat menggelar tradisi maras taun sebagai wujud syukur atas hasil panen yang telah diperoleh.

Lebih dari itu semua, Salim menyebut peran dukun kampong sangat domimnan dalam kebudayaan agraris Belitong. Mulai dari pentuan kelayakan lahan, pembakaran lahan, waktu penanaman, panen, hingga maras taun, semunya tak lepas dari persetujuan dukun kampong.

"Bahkan nasi pertama yang dihasilkan dari ume harus dicicipi oleh dukun kampong," jelas Salim YAH.

Berita ini hasil observasi Pos Belitung pada September 2011.

Sikon terkini bisa jadi telah berubah.

Tapi setidaknya tulisan ini bisa memberikan kalian gambaran tentang kebudayaan Belitong, yakni Nugal.

(posbelitung.co/Wahyu Kurniawan)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved