Timah

Tian Tempuh 70 Kilometer untuk Jual Timah

Penambang timah di Belitung mulai kesulitan. Mereka harus berkendara puluhan kilometer untuk menjual timah yang didapatnya.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Teddy Malaka
Pos Belitung
Bijih timah milik warga. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Penambang timah di Belitung mulai kesulitan. Mereka harus berkendara puluhan kilometer untuk menjual timah yang didapatnya.

Demikian diakui oleh Tian, seorang penambang di Sijuk, Kabupaten Belitung.

DItemui posbelitung.co, ia mengaku jadi satu di antara yang mengantre di pintu gudang kolektor tengah malam.

Beruntung, malam itu ia bisa menjual 3 kilogram timah seharga Rp128 ribu karena memiliki OC 76.

Hasil hari itu memang banyak, karena berminggu-minggu sebelumnya hasil yang diperoleh dalam sehari bahkan tak sampai 1 kilogram.

"Jualnya sekarang memang sudah bisa, walaupun memang masih kucing-kucingan," kata Tian kepada posbelitung.

Pernah, saat berminggu-minggu kesulitan menjual timah, Tian bahkan harus pergi ke Belitung Timur, menempuh jarak lebih dari 70 kilometer untuk bisa menjual timahnya.

"Mau tidak mau lah, jual ke jauh yang penting ada yang beli. Kalau barang disimpan susah juga, apalagi duit lah habis, untuk modal pun sudah tidak ada," pungkasnya.

Direktur Babel Resources Institute (BriNST), Teddy Marbinanda mengatakan, kondisi sektor pertambangan timah di Indonesia, khususnya di Belitung, tengah menghadapi tantangan besar. Banyak smelter timah yang tutup, menyebabkan kesulitan bagi warga penambang untuk menjual bijih timah mereka.

Ia mengatakan ketakutan terhadap implikasi hukum dari aktivitas pertambangan ilegal menjadi salah satu penyebab utama stagnasi ini. Para pemodal dan kolektor yang biasanya menggerakkan ekonomi sektor ini kini terbelenggu oleh kekhawatiran akan kasus hukum yang dapat menimpa mereka.

“Ketakutan terhadap kasus hukum membuat banyak smelter swasta menutup operasi mereka. Situasi ini diperburuk oleh tindakan tegas dari aparat penegak hukum yang memberantas tambang ilegal. Akibatnya, para pemodal dan kolektor enggan mengambil risiko, sehingga perputaran uang di sektor ini terhenti. Hal ini berdampak langsung pada penambang rakyat yang bergantung pada penjualan bijih timah untuk kelangsungan hidup mereka,” kata Teddy Marbinanda.(*)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved