Pos Belitung Hari Ini

LIPSUS - Masyarakat Semakin Kritis

Pilkada Ulang 2025 di Pangkalpinang dan Bangka menjadi pesta demokrasi yang menarik disimak. 

Editor: Novita
Dokumentasi Posbelitung.co
Pos Belitung Hari Ini Edisi Senin, 23 Desember 2024 

"Jangan salah, silaturahmi, datang sebentar ke rumah warga, ke masjid, menyapa masyarakat itu amat penting, bukan bermaksud untuk mencari citra, tapi begitulah yang namanya pemimpin, harus dekat dengan masyarakatnya tadi," sambungnya.

Untuk itu kata Prof Bustami, akibat dari kurangnya faktor ketokohan yang ada pada diri pasangan calon tersebut, membuat masyarakat cenderung memilih untuk menolak untuk dipimpin oleh pasangan calon tersebut.

"Selama menurut masyarakat, pemimpin yang dicalonkan masih jauh dari apa yang mereka harapkan, maka cukup mudah bagi mereka ini untuk melawan. Apalagi dengan disediakannya kotak kosong, lebih sukarela lagi mereka untuk memilih kotak kosong," terang Prof Bustami.

Tak hanya dari pribadi (ketokohan) pasangan calon, konteks sosial kultural, kata Prof Bustami, juga menjadi salah satu faktor yang tak dapat dipisahkan oleh masyarakat dalam memilih calon kepala daerah.

"Juga ada yang namanya faktor sosial budaya, konteks ini berasal dari latar belakang pasangan calon, seperti suku, agama, hingga cara pandang ideologi yang ia bawa. Hal-hal seperti itu tadi pada dasarnya sangat menentukan bagaimana masyarakat dalam menilai pasangan calon tersebut," kata Prof Bustami.

Ia menjelaskan, aspek sosial kultural justru lebih rentan untuk mengalami gesekan pada masa Pilkada. 

Hal ini mengingat konteks tersebut berhubungan dengan penyeragaman jati diri antara pasangan calon dengan masyarakat tempatnya mencalonkan.

"Konteks suku misalnya, Pilkada di Jawa Timur, tapi yang muncul pasangan calonnya dari suku Sunda, kan jadi persoalan juga ujung-ujungnya. Terlepas calon tersebut sebenarnya capable dalam memimpin, tapi tak menampik masyarakat masih mikir-mikir terlebih dahulu untuk memilih. Karena apa, karena ketidaksamaan suku dengan mereka tadi," ujar Prof Bustami.

"Atau pasangan calon tadi pada dasarnya asli orang daerah tersebut, namun rupanya ia juga lama tumbuh atau tinggal di daerah lain. Nah, itu juga bisa menjadi salah satu faktor dalam memantik perubahan sikap masyarakat. Sangat mudah untuk mengapi-apikan konteks tersebut sebagai suatu hal yang negatif, bawah lebih lama ia tinggal di wilayah lain ketimbang di wilayah ia mencalonkan diri saat ini," terangnya. (x1)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved