Prakiraan Cuaca

Kemarau 2026 Lebih Kering, BMKG Prediksi Puncaknya Agustus

BMKG dan BRIN memprediksi akan terjadi kemarau panjang, datang lebih awal April hingga Oktober.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Istimewa/Dok. BPBD Belitung
KEMARAU - Petugas BPBD Belitung membagikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak musim kemarau beberapa waktu lalu. BMKG dan BRIN memprediksi tahun 2026 akan terjadi kemarau panjang, datang lebih awal April hingga Oktober. 

Artinya, musim hujan belum sepenuhnya berakhir dan aktivitas hujan masih cukup signifikan di banyak daerah.

BMKG juga mencatat tidak adanya wilayah yang secara dominan mengalami curah hujan tinggi (150–300 mm) maupun sangat tinggi (lebih dari 300 mm) pada periode ini.

Kondisi ini menjadi indikator bahwa potensi cuaca ekstrem berskala luas, seperti hujan sangat lebat yang berpotensi memicu bencana besar, relatif tidak terdeteksi pada awal April 2026.

Transisi Musim Mulai Terlihat

Munculnya wilayah dengan curah hujan rendah di tengah dominasi hujan menengah menjadi sinyal awal peralihan musim atau pancaroba. 

Pada fase ini, cuaca cenderung lebih dinamis dan tidak merata. Hujan dapat terjadi secara tiba-tiba dengan intensitas yang berubah-ubah, disertai potensi petir dan angin kencang, terutama pada siang hingga sore hari.

Meski potensi hujan ekstrem menurun, BMKG mengingatkan bahwa risiko cuaca tetap ada.  Hujan lokal dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat masih berpotensi terjadi dan dapat memicu genangan, banjir lokal, hingga longsor di wilayah rawan.

Selain itu, perubahan cuaca yang cepat juga dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk sektor transportasi dan pertanian.

Sebagai acuan, BMKG membagi curah hujan menjadi empat kategori, yaitu rendah (0–50 mm per dasarian), menengah (50–150 mm), tinggi (150–300 mm), dan sangat tinggi (lebih dari 300 mm).

Kategori ini digunakan untuk membantu masyarakat memahami tingkat intensitas hujan dan potensi dampaknya di masing-masing wilayah.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama di masa pancaroba yang cenderung tidak menentu. 

Pemantauan informasi cuaca secara berkala menjadi penting untuk mengantisipasi potensi dampak yang dapat terjadi.

Selain itu, pemerintah daerah diharapkan tetap siaga dan memastikan langkah mitigasi berjalan optimal, khususnya di wilayah yang rawan terhadap bencana hidrometeorologi.

BMKG menegaskan bahwa prakiraan ini bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. 

Oleh karena itu, pembaruan informasi cuaca menjadi kunci dalam menghadapi dinamika cuaca pada awal April 2026. 

Langkah Antisipasi

Menanggapi berbagai risiko yang mungkin terjadi sepanjang musim kemarau 2026, Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat.

Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.

“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” kata Faisal.

Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” kata Faisal.

Dampak El Nino Godzilla

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan kemarau panjang kemungkinan terjadi di Indonesia, April hingga Oktober 2026.

Kemarau diprediksi datang lebih cepat dari perkiraan karena dampak fenomena musim El Nino dengan intensitas kuat yang disebut sebagai "Godzilla”.

"Godzilla” El Niño + IOD Positif… kedengarannya keren, tapi dampaknya nggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak ‘nongkrong’ di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja," tulis BRIN di akun Instagram resminya.

"IZIN ???? ini bukan buat nakut-nakutin ya #KawanBRIN, tapi biar kita bisa lebih siap dari sekarang. Yuk, mulai hemat air, jaga kesehatan, dan lebih aware sama kondisi sekitar.

Save & share ke orang terdekat kamu biar sama-sama siap ????." tulis BRIN lagi.

BRIN memprediksi pada April hingga Juli 2026 kemungkinan musim kemarau panjang di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Sebaliknya, di Sulawesi, Maluku dan Halmahera akan hujan lebat.

Meski kemarau panjang, namun ada sisi positif, potensi laut akan melimpah.

"Kemarau 2026 datang lebih cepat, tapi bukan cuma soal kekeringan. Di balik itu, laut Indonesia justru sedang “dipupuk alami” lewat fenomena upwelling yang bikin nutrisi naik ke permukaan dan memicu ledakan kehidupan laut. 

Dampaknya? Potensi ikan meningkat dan bisa jadi penopang pangan kita. Saat darat menantang, laut memberi harapan ????." tulis BRIN.

(Posbelitung.co/Kompas.tv)

 

Sumber: Pos Belitung
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved