Berita Bangka

Wabah Malaria Menyerang Warga Pesisir Belinyu

Masyarakat pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka sedang dihantui wabah malaria.

Tayang:
Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Adi Saputra
WABAH MALARIA - Permukiman warga di pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Warga setempat kini sedang dihantui wabah malaria. 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Satpol PP bersama perangkat RT setempat akan menghentikan sementara aktivitas penambangan pada waktu tertentu agar seluruh pekerja dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan.

“Mulai Rabu, aktivitas penambangan akan dihentikan sementara mulai pukul 09.00 WIB agar para penambang bisa menjalani tes malaria,” tegasnya.

Ia menegaskan langkah tersebut murni untuk kepentingan kesehatan masyarakat dan bukan bagian dari penertiban aktivitas tambang.

“Ini demi keselamatan bersama. Kami berharap seluruh penambang mengikuti arahan petugas agar jumlah kasus tidak terus bertambah dan warga yang terinfeksi bisa segera mendapat pengobatan,” ujarnya.

Kolong dan Ancaman Malaria

Apakah keberadaan kolong-kolong bekas tambang timah memiliki hubungan dengan meningkatnya kasus malaria?

Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bangka Barat, Muhammad Putra Kusuma, menilai hubungan tersebut cukup kuat secara epidemiologis.

"Secara epidemiologis, keberadaan kolong bekas tambang timah memiliki hubungan yang cukup kuat, dan signifikan terhadap peningkatan risiko penularan malaria. Terutama bila kolong tidak direklamasi dan berada dekat permukiman atau lokasi aktivitas tambang masyarakat," kata Putra.

Menurutnya, kolong bukan penyebab tunggal. Namun, keberadaannya dapat membentuk ekosistem yang ideal bagi nyamuk Anopheles untuk berkembang biak.

"Berdasarkan kajian epidemiologi lingkungan dan entomologi kesehatan, genangan air pada kolong bekas tambang timah memiliki banyak karakteristik yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles, sebagai vektor malaria, meskipun tingkat kesesuaiannya dapat berbeda tergantung kondisi fisik, kimia, dan biologis kolong," lanjutnya.

Dalam perspektif epidemiologi, habitat larva merupakan salah satu mata rantai penting dalam proses penularan malaria.

"Kolong bekas tambang termasuk bentuk man-made breeding site atau habitat buatan manusia yang terbentuk akibat perubahan lingkungan oleh aktivitas pertambangan," terangnya.

Ia menambahkan, wilayah yang berdekatan dengan kolong umumnya menunjukkan pola penularan yang lebih tinggi dan lebih persisten dibandingkan wilayah tanpa kolong.

"Lebih persisten, dan lebih terkonsentrasi dibandingkan daerah yang tidak memiliki kolong," terangnya.

Namun pandangan berbeda disampaikan Kabid Pertambangan Mineral Logam Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung, Erpan Muchtedi.

"Kolong-kolong itu, tidak semua bagian kolong yang mungkin jadi habitat hidup dari larva nyamuk anopheles," kata Erpan Muchtedi, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, bagian tengah kolong yang terbuka dan terus terpapar sinar matahari justru kurang mendukung perkembangan larva nyamuk.

"Bagian tengah tidak memenuhi syarat untuk hidupnya, paling bagian pinggir vegetasinya sudah menjadi tertutup dari matahari, menjadi habitatnya. Tidak semua bagian kolong itu. Menjadi habitat nyamuk anopheles," lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa habitat larva nyamuk juga dapat ditemukan di kawasan lain seperti rawa maupun tepian sungai.

"Penyebab lain bisa jadi seperti pinggir sungai sungai bisa jadi habitat hidupnya, dan rawa rawa itu juga bisa menjadi habitat hidup terhadap larva anopheles ini. Mungkin perlu digaris bawahi, artinya bisa jadi kolong itu menjadi berdampak penyebaran nyamuk, tetapi bukan satu satunya," terangnya.

Karena itu, menurut Erpan, diperlukan penelitian yang lebih komprehensif untuk mengetahui hubungan sebenarnya antara kolong bekas tambang dan peningkatan kasus malaria.

"Untuk mengetahui apakah daerah yang memiliki kolong lebih rentan menjadi endemik malaria dibandingkan wilayah yang tidak memiliki kolong," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kesimpulan harus dibangun di atas data dan penelitian yang memadai.

"Jadi perlu dikaji, baru bisa menyimpulkan, dia tidak semacam pendampat atau asumsi tanpa ada penelitian di situ ada pembanding," terangnya.

Sebagai pembanding, ia mencontohkan Papua yang juga masih menghadapi persoalan malaria meskipun tidak seluruh wilayahnya memiliki aktivitas pertambangan maupun kolong bekas tambang.

"Karena kita tahu malaria ini menjadi masalah juga di Papua. Tidak semua Papua daerah tambang yang memiliki kolong bekas tambangnya, tapi ada tidak ada tambang, malaria lumayan menjadi masalah. Itu pembandingnya," katanya. (Posbelitung.co/Adi Saputra/Riki Pratama)

Sumber: Pos Belitung
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved